Menjadi Senior yang Baik
(menyambut tahun akademik baru)
Hari
saat Henny sidang skripsi gue dateng. Tapi, sebelumnya gue ke Kansas
dulu karena kangen juga. Akhir-akhir ini Kansas cuma gue lewatin
doang. Gak dinikmati. Gue di sana sama Mimi Ratu Bulbor. Abang Po
(bukan nama sebenarnya) kemudian bergabung. Lalu mengobrollah kami
bertiga. Entah bagaimana, pembicaraan di Kansas tadi pagi dengan
Abang Po dan si Mimi bermuara pada tema ‘mencintai mata kuliah
jurusan sendiri’ dan akhirnya menyerempet masalah pengaruh senior
terhadap juniornya.
Si
Abang Po kita itu cerita bahwa mulanya dia gak suka-suka amat ama
kuliah jurusan sendiri. Kalaupun akhirnya dia suka, itu karena
pengaruh teman-teman sepermainan dari jurusan lain. Mendengar itu,
gue cuma ngangguk-ngangguk sambil mikir (ya, gue bisa mikir): Apa gue
pernah bener-bener suka ama kuliah-kuliah gue? Gak tau juga. Selain
bahasa-bahasa sumber gue gak pernah bener-bener semangat. Tapi, gak
berarti benci juga. Perasaan gue, ya… datar aja, gitu. Apa
jangan-jangan gue kurang berperasaan?
Soal
gue punya perasaan atau nggak, nggak penting. Tapi, mengenai penyebab
ketidaksukaan terhadap mata kuliah sendiri itu gue punya satu teori:
karena asupan racun beberapa senior. Mereka memberi kesan bahwa
belajar di prodi jerman berarti belajar menggorok leher lo sendiri.
“Iya juga sih, waktu gue baru masuk gue udah dikasih tau biar
siap-siap DO,” kata Po menanggapi gue. See? Dan itu bukan
satu-satunya kasus. Salah satu dari angkatan gue pernah nanya sama
seorang senior, “Kira-kira pas semester tiga IP bisa naik gak ya?”
Dan dengan tegasnya dia menjawab “Gak bisa. Gak mungkin”. Tanpa
memikirkan bahwa sebagai senior ucapannya menjadi acuan. Tanpa
memikirkan bahwa dunia lebih rumit daripada pencernaan sapi, sehingga
‘tidak mungkin’ bukanlah kata-kata yang gampang diucapkan.
Mungkin
menurut beberapa orang menjadi senior hanya masalah lebih tua atau
lebih dulu belajar. Sayangnya, nggak sesederhana itu. Bagaimana pun,
junior melihat seniornya sebagai orang yang lebih berpengalaman dan
lebih tahu. Been there, done that. Dari senior mereka
mengharapkan banyak pelajaran agar bisa melakukan apa pun dengan
baik. Karena itu, yang harus seorang senior bilang kepada juniornya
adalah, “Dari pengalaman gue, yang harus lo lakukan adalah…”
Selain
itu, menurut gue lebih baik jangan memberitahu hal-hal negatif soal
dosen-dosen, terutama sebelum junior bertemu dosen-dosen itu. Biar
mereka nilai sendiri. Kalau perlu, ketika mereka mengeluhkan
dosen-dosen, tenangkan mereka. Buat mereka yakin bahwa dosen
Sapaitulahnamanya tidak seseram kelihatannya. Ini penting karena
penilaian terhadap dosen berpengaruh pada atensi terhadap kuliahnya.
Gak suka sama dosen=gak suka mata kuliahnya=males masuk
kuliah=prestasi buruk.
Selanjutnya,
ubah cara lo menceritakan kegagalan lo dalam kuliah. Jangan buat
kesan bahwa kegagalan lo adalah hal yang wajar dan kemungkinan besar
junior lo akan gagal juga. Masalahnya, junior lo itu belum tentu
hanya punya kemampuan yang sama atau lebih rendah daripada lo. Jadi,
nggak usah bilang kalau lo nggak lulus mata kuliah Apalahgitu karena
“Tu dosen emang gitu.Ngasih nilainya suka nggak jelas. Mistis”.Yang
harus lo bilang adalah, “Kayaknya gue emang kurang belajar, deh.
Emang kalo ikut mata kuliah itu harus sering-sering baca buku lain.”
Sayangnya,
senior-senior di prodi jerman nggak semuanya sadar bahwa pengaruh
mereka cukup banyak ke adik-adik mereka. Jadi, kadang-kadang mereka
perlu diingatkan. Misalnya, waktu ada pertemuan angkatan 2007 yang
baru masuk dan ISJ. Gue waktu itu berusaha mencegah Ketua ISJ
tercinta menyinggung tema akademik waktu berbicara di depan puluhan
anak baru. Masalahnya, gue punya firasat bahwa dia bakal
menakut-nakuti mereka. Tapi, gue gagal. Gue gagal mencegah dia
mengatakan “Di jurusan kita IP 3 itu sudah sangat bagus”.
Seharusnya gue gak pernah kasih dia kesempatan untuk bicara di depan
angkatan baru dari pertama. “IP 3 sudah sangat bagus” adalah cara
lain untuk mengatakan “IP 3 itu nyaris nggak mungkin”. Nyatanya?
Nggak juga. Kata siapa? Gue tahu bahwa banyak dari angkatan gue yang
IP-nya 3. Semester tujuh kemarin kami malah rame-rame menembus angka
3,5.
Cukup
soal tips menjadi senior yang baik. Gue mau meyakinkan lo bahwa efek
senior MEMANG besar terhadap juniornya. Gara-gara asupan racun senior
itu, anak-anak jerman sebagian besar punya sifat sbb:
-males ikut organisasi karena berpikir itu membuang waktu dan (entah
sumber dari mana) dosen-dosen kurang suka sama anak-anak yang aktif
organisasi. Padahal, aktif di organisasi adalah salah satu syarat
menjadi calon kandidat Mahasiswa Berprestasi.
-Males ikut kelas-kelas bahasa sumber karena (entah atas dasar apa)
ada pikiran bahwa kelas bahasa sumber membuat lo makin bingung dengan
bahasa jerman.
-Merasa jadi orang termalang di dunia karena jadi mahasiswa jerman.
Padahal, bahasa jerman masih ditulis dalam tulisan latin (bandingkan
sama bahasa arab, rusia, korea, cina, dan jepang!). Selain itu, masih
punya kekerabatan dengan bahasa inggris (coba kalo lo belajar bahasa
rusia!). Belum lagi, jadwal kuliah anak jerman masih lumayan longgar
daripada anak arab yang di tahun pertama aja kuliah dari jam 7.30
sampe 17.30.
-Punya nilai bahasa jerman yang jauh di bawah ekspektasi karena dari
awal sudah menganggap bahasa tsb susah dan (dalam beberapa kasus)
malah jadi males belajar karena kayaknya percuma.
Sifat-sifat
di atas jelas-jelas buruk semua dan sedikit-banyak akan berpengaruh
pada masa depan anak jerman sendiri. Yang mau gue bilang adalah ambil
pelajaran dari tulisan ini. Jadilah senior yang baik. Oke?
Science | Comment (1)
Skripsi Ajaib Mbak Dian Sastro
Gue udah sering bilang sama diri sendiri:jangan suka ngatain orang. Tapi, tetep aja sesekali gue melakukan. Akibatnya tadi siang, seperti kata Chill, “Lo disentil Allah tuh.”
Jadi, ceritanya, gue denger dari Oni soal skripsi Mbak Dian Sastro. Dia bilang, dia gak ngerti karena tidak seperti skripsi anak bahasa yang terdiri dari pendahuluan, teori, dan isi. Gue jadi penasaran. Jadilah siang tadi pas gue ke perpus gue pinjem tuh skripsi si Mbak bintang LUX. Sbenarnya itu juga karena dorongan Risma (gak mau berasa salah sendiri gitu, gue).
Akhirnya gue buka tuh skripsi, dibaca-baca. Pd bag pndahuluan sama: ada latar belakang, metode penelitian, dan lain-lain.Tapi di bab selanjutnya bener2 aneh (menurut gue, pada mulanya) Gada bab khusus landasan teori. Sepertinya ditulis dengan cara menggabungkan teori dan analisis, hanya saja dibagi mjd bab-bab sesuai pembahasan. Gue udah ngomong, “Ih, aneh, aneh,… gada korpus datanya.” (padahal sebenernya kalau dipikir-pikir emang begitu cara nulisnya. Memang tidak ada korpus data tertentu yg diteliti. Intinya, gue nggak ngerti aja, gitu skripsi yang berbeda dr biasanya. Si Adi mungkin akan nulis yg kayak gt.)
Setelah merasa gada lg yang bisa dikatai aneh dari skripsi itu gue ngobrol2 ama chill, ketawa2, ngomongin hal yang ga penting (satu lagi: jangan kebanyakan ketawa. ADa hadisnya tuh. Bisa mematikan hati.)Trus, di tengah2 obrolan dengan Chill gue bilang, “Skripsinya Mbak Dian mana?” Gue baru sadar bahwa benda itu udh gada lg di atas meja gue. gue bolak-balik lantai 1,2,3 nyariin. Sampe nanya ke petugas perpus yg hari ini pake kemeja pink. “Saya dari tadi nggak ngangkat skripsi Mbak.” Gue kelabakan. Tiap orang yg lagi baca skripsi gue curigai, trus gue liat skripsinya. Bukan. Di mana, Oh Tuhan????
Akhirnya gue nanya ke ibu yang jaga di bag skripsi, tesis, dan disertasi. Siapa tahu aja gue tiba2 blank dan mengembalikan skripsi itu tanpa sadar. Ternyata nggak. KTM yang jadi jaminan masih ada di situ. Berarti skripsi itu masih tanggung jawab gue. “Saya nggak mau tahu, ya. Harus kembali,” kata si Ibu. Gue cuma bisa bilang iya sambil mengangguk keras2.
Gue ke lantai atas lagi, tempat tadi gue duduk sama Chill dan Risma. PUter2 sambil dalam hati berdoa dan berjanji ga bakal ngatain kerjaan siapapun lagi (terlebih kalo ada nilai skripsinya A. Buktinya ditaro di perpus.) Und weisst du was? Ketika gue utk keskian kalinya lewat di rak bag buku korea yg terletak tdk jauh dr meja gue, di atas rak itu ada buku tebal putih yg bersinar2. Mungkinkah… Gue meraihnya dan ternyata ITU DIA!!!Kenapa dr tadi gue lewat2 situ dan gak ngeliat???
Gue membawa skripsi ajaib itu ke hadapan Chill dan Risma. “Ketemu di mana?” tanya mereka.
“Di situ,” tunjuk gw ke rak rendah yang terletak tidak sampai 3meter dr meja gue. “Mkanya, De. Jngn ngatain orang,” kata Chill.
“Iya, nih” gue lalu beristighfar dua kali.
Ck, ck, ck, daripada ngatain orang ‘kan mending cari bahan buat Aufsatz.
(mudah2an gada anak Jerman yang tertarik baca, amin. Bisa abis gue.)
Books | Comment (1)