Skripsi Ajaib Mbak Dian Sastro
Gue udah sering bilang sama diri sendiri:jangan suka ngatain orang. Tapi, tetep aja sesekali gue melakukan. Akibatnya tadi siang, seperti kata Chill, “Lo disentil Allah tuh.”
Jadi, ceritanya, gue denger dari Oni soal skripsi Mbak Dian Sastro. Dia bilang, dia gak ngerti karena tidak seperti skripsi anak bahasa yang terdiri dari pendahuluan, teori, dan isi. Gue jadi penasaran. Jadilah siang tadi pas gue ke perpus gue pinjem tuh skripsi si Mbak bintang LUX. Sbenarnya itu juga karena dorongan Risma (gak mau berasa salah sendiri gitu, gue).
Akhirnya gue buka tuh skripsi, dibaca-baca. Pd bag pndahuluan sama: ada latar belakang, metode penelitian, dan lain-lain.Tapi di bab selanjutnya bener2 aneh (menurut gue, pada mulanya) Gada bab khusus landasan teori. Sepertinya ditulis dengan cara menggabungkan teori dan analisis, hanya saja dibagi mjd bab-bab sesuai pembahasan. Gue udah ngomong, “Ih, aneh, aneh,… gada korpus datanya.” (padahal sebenernya kalau dipikir-pikir emang begitu cara nulisnya. Memang tidak ada korpus data tertentu yg diteliti. Intinya, gue nggak ngerti aja, gitu skripsi yang berbeda dr biasanya. Si Adi mungkin akan nulis yg kayak gt.)
Setelah merasa gada lg yang bisa dikatai aneh dari skripsi itu gue ngobrol2 ama chill, ketawa2, ngomongin hal yang ga penting (satu lagi: jangan kebanyakan ketawa. ADa hadisnya tuh. Bisa mematikan hati.)Trus, di tengah2 obrolan dengan Chill gue bilang, “Skripsinya Mbak Dian mana?” Gue baru sadar bahwa benda itu udh gada lg di atas meja gue. gue bolak-balik lantai 1,2,3 nyariin. Sampe nanya ke petugas perpus yg hari ini pake kemeja pink. “Saya dari tadi nggak ngangkat skripsi Mbak.” Gue kelabakan. Tiap orang yg lagi baca skripsi gue curigai, trus gue liat skripsinya. Bukan. Di mana, Oh Tuhan????
Akhirnya gue nanya ke ibu yang jaga di bag skripsi, tesis, dan disertasi. Siapa tahu aja gue tiba2 blank dan mengembalikan skripsi itu tanpa sadar. Ternyata nggak. KTM yang jadi jaminan masih ada di situ. Berarti skripsi itu masih tanggung jawab gue. “Saya nggak mau tahu, ya. Harus kembali,” kata si Ibu. Gue cuma bisa bilang iya sambil mengangguk keras2.
Gue ke lantai atas lagi, tempat tadi gue duduk sama Chill dan Risma. PUter2 sambil dalam hati berdoa dan berjanji ga bakal ngatain kerjaan siapapun lagi (terlebih kalo ada nilai skripsinya A. Buktinya ditaro di perpus.) Und weisst du was? Ketika gue utk keskian kalinya lewat di rak bag buku korea yg terletak tdk jauh dr meja gue, di atas rak itu ada buku tebal putih yg bersinar2. Mungkinkah… Gue meraihnya dan ternyata ITU DIA!!!Kenapa dr tadi gue lewat2 situ dan gak ngeliat???
Gue membawa skripsi ajaib itu ke hadapan Chill dan Risma. “Ketemu di mana?” tanya mereka.
“Di situ,” tunjuk gw ke rak rendah yang terletak tidak sampai 3meter dr meja gue. “Mkanya, De. Jngn ngatain orang,” kata Chill.
“Iya, nih” gue lalu beristighfar dua kali.
Ck, ck, ck, daripada ngatain orang ‘kan mending cari bahan buat Aufsatz.
(mudah2an gada anak Jerman yang tertarik baca, amin. Bisa abis gue.)
Books | Comment (1)Tuhan di Mana?
Well, well, well, kali ini harus ngomong apa yah? Karena masih bulan ramadhan, mending kita ngomongin itu aja yah. JAdi, puasa pada bulan ramadhan itu… halah. ya enggaklah. gak bakal ngejelasin itu gue.
Yang pasti, ramadhan kali ini berbeda karena gue punya motivasi tambahan untuk bangun sahur, yaitu sinetron “para pencari Tuhan”, SCTV jam tiga pagi. Gue tertarik menonton karena itu garapan Deddy Mizwar. Selain itu, gue kangen trio Bajaj.
Ternyata? Kocak sangat. Nggak ada cerita deh lo nyuap nasi sambil terkantuk-kantuk. Selain itu ceritanya islami dalam arti sebenernya. Nggak kayak sinetron lain yg katanya islami tapi ceritanya bolak-balik soal cinta segi tiga dan perebutan harta lagi (ditambah berkali-kali ucapan alhamdulillah, subhanallah, dan jilbab, serta adegan sholat).
Tokoh2nya bener2 nyata:
- marbot musholla mantan jagal hewan ternak
- 3 mantan napi yg tobat
- lulusan S1 yg miskin dan pengangguran
- hansip menyebalkan dan sok tahu
- orang kaya yg suka berderma tapi gak ikhlas
- ustadz yg kurang islami
mereka gue sebut alami karena tidak menggambarkan tokoh hitam-putih. mereka semua punya sisi baik dan jelek. hitam dan putih sekaligus. tidak ada tokoh yg kelewat sabar atau kelewat baik. Kita disebut manusia karena punya dua sisi. Kita cacat karena itulah alaminya manusia.
Sinetron ini berusaha mngajarkan banyak hal tanpa menggurui. Tanpa menganggap penonton adalah orang2 bodoh yg tidak bisa mengambil pesan yg tersirat. Dan itulah yg namanya film. kalau mau ngasih tau lgsung sih ceramah aja sekalian.
Nah, makanya, nonton yah! biar kita bisa berdiskusi…. (salah satu yg cukup termakan ajakan gue adalah Ririn. Semoga lo adalah yg berikutnya, hahahahha)
dan selamat puasa! Tunjukkan kalau lo sanggup berperang dengan hawa nafsu lo sendiri. Selain itu, mohon maaf lahir batin. kan bentar lagi lebaran.
NB: buka rahasia sedikit nih. gue suka melki. hahahahahahah
Film | Comment (0)Invasi Melalui Tabung Ajaib
Kalau gue bilang bintang TV, terutama pemain sinetron sekarang kebanyakan adalah campuran ras melayu dan kaukasia (baca: indo) bukan hal baru lagi. Ada yang lebih gila akhir-akhir ini. Televisi kita diinvasi oleh manusia2 yang lebih bule daripada anak2 indo tersebut.
Manusia2 yang gue maksud terbagi menjadi dua:
- ga punya darah indonesia sedikit pun mengalir di tubuhnya, tetapi sangat lancar berbahasa indonesia dan jelas sekali cinta berat Indonesia. Mereka dapat ditemukan pada program yang berbau jalan2. Exampli gratia: program berbagi cerita dan turis dadakan.
- punya sedikit darah indonesia tapi gak lancar berbahasa indonesia. Kalau ngeliat manusia jenis ini berdialog di sinetron atau film gue langsung jatuh iba. Pasti ngafalin dialognya mesti pake bantuan jin segala. ck, ck, ck. Nah, seperti yg gue bilang yang jenis ini biasanya ada di sinetron atau film. Mike Lewis, misalnya. Lo liat deh di sinetron di SCTV. Pasti lo nangis ngeliat dia ngomong. kasian.
Sebenernya gue gak terganggu dengan fenomena ini, tapi gue gak ngeliat untungnya juga. Mereka emang biasanya lebih enak diliat. tapi cuma sesaat. Yah, asal jangan tiba-tiba suatu hari gue nonton TV indonesia tapi gak nemuin satu orang pun yang keliatan indonesia. Gawat juga tuh. Gimana menurut lo?
Television | Comment (0)Kecelakaan
Mari kita mulai ceritanya.
Sore kemarin gue mau masak kornet. Yang semua orang tau ketika kita mau mengeluarkan makanan kalengan dari tempanya yang perlu dilakukan adalah membuka kalengnya. Ya kan?
JAdi gue membuka kalengnya. Tapi gue salah langkah. Akibatnya jempol kanan gue keiris kaleng yang tajem itu. (Gue jadi ngilu lagi kalo inget. Semoga Sarkov baca blog ini. Dia punya daya imajinasi yang terlalu bagus)
Darah keluar banyak dan seakan gak mau berhenti plus rasa perih membut gue panik. Dengan bodohnya gue mengibas-ngibaskan jempol yang terluka dan membuat lantai dapur dan beberapa bagian rumah lain terciprati darah.
Gue berusaha menghentikan darah dengan mencucinya (ya, gue tahu ini bukan cara yang benar. maklum dong, namany juga panik). Gagal. Lalu gue balut pake plester. darahnya masih gak berhenti, malah merembes keluar. Ganti plester baru. Lumayan. Nyokap gue datang dngan perban dan plester serta aobat antiseptik. Keliatan baget kalo dia cemas. Gue buka plester yang tadi, mengolesi obat antiseptik ke luka gue dan menutupnya dengan plester yang baru. Baru setelah itu gue merasa lebih baik. Fiuh… Tapi tetep aja masih ngilu.
Setelah itu gue masih harus membersihkan lantai yang terciprat darah dan … melanjutkan memasak.Mungkin judul makan malam yang tepat kali ini adalah "Kornet Berdarah". Itadakimasu!
Setelah agak lama di pikiran gue terlintas deretan sinetron hidayah. Kali aja kecelakaan kali ini adalah ganjaran dari perbuatan gue sebelumnya. Gue baru inget. Jadi, gue baru aja nonton bokep… bo’ong deng hehehehe.
Apapun, intinya gue jadi mikir: punya jempol yang sehat aja kita mestinya bersukur. ck ck ck betapa bijaknya gue hari ini.
Nice day Everyone!
N.B. Udah liat nilai semester ini? Kalo gue, ini yang terburuk seumur-umur. I should’ve learned harder.
Uncategorized | Comment (0)Pathetic Poetic
Dari Kejauhan
Aku sangat tidak suka berada di sampingnya,
memandangnya,
bercakap-cakap dengan dia
Masalahnya, setiap kali itu terjadi
jantungku jadi berdetak jauh, jauh, jauh lebih cepat tak terkendali
seakan-akan aku habis meminum bergalon-galon kopi.
Karena itu, aku lebih baik menjauh saja:
melihatnya tertawa,
menghitung tarikan napasnya,
mengira-ngira jarak antara aku dan dia.
Cukup itu saja.
History repeats itself…
… especially on TV
Gue bisa dibilang
rajin nonton EXTRAVAGANZA. Yak, benar. Acara lawak2an yang ada di
trans tv tiap sabtu dan senin malam itu.
Setelah lebih dari
setahun menonton, akhirnya gue bisa mengumpulkan hal2 yang sering
atau bahkan nyaris selalu dapat ditemukan dalam setiap episode
EXTRAVAGANZA, antara lain:
-
Cerita diakhiri
dengan adegan memukuli atau mengejar salah satu tokoh. -
Virni menampar
lawan main cowok yang menjahilinya. -
Tora, Ronal,
dan Indra Birowo sering tampil sepaket sebagai kakek2 ganjen dengan
blangkon yang selalu menggoda Virni. -
Tora berperan
sebagai preman dengan kaos kutung biar tato2nya keliatan. -
Aming sangat
jarang berperan sebagai lelaki. Lebih sering ia memainkan tokoh
perempuan muda atau nenek2 dengan dandanan nyentrik, lipstick warna
mencolok yang dipulaskan di luar garis bibir, dan sering juga
mengenakan wig. -
Di akhir cerita
tokoh laki2 dikejutkan dengan keharusan menikah dengan Aming atau
semacamnya, plus adegan Aming yang tertawa lebar sambil melompat
penuh napsu ke gendongan si tokoh laki2. -
Aming sering
diejek hidungnya, Sogi ‘kutil’ di hidungnya. -
Indra berperan
sebagai banci (Aming kan juga? Oh, beda. Kalau Aming emang
berperan sebagai cewek dengan tampang ‘luar biasa’) lengkap
dengan dandanan ala gay (kemeja ketat, syal, dan sepatu moccasin),
gerakan tubuh melambai2, serta kosa kata khas banci yang diucapkan
dengan mulut dimiring2in. -
Ada tokoh yang
bernama Pak Adang. -
Cerita
merupakan adaptasi dari cerita rakyat Indonesia atau dongeng dunia
seperti bawang merah bawang putih dan Cinderella.
hmm…. ternyata gue memang kurang kerjaan…
tapi omong-omong, ada tambahan?
xoADExo
Uncategorized | Comment (0)Troya
Hai!
Yang akan lo baca ini adalah versi asli cerpen yang (EHM!)
alhamdulillah menang di FALASIDO (Festival Bulan Bahasa Indonesia)
yang diadakan oleh anak2 jurusan Sastra Indonesia UI. Kenapa versi
asli ini diubah ketika mengikuti lomba? Karena persyaratan lombanya
adalah memakai bahasa Indonesia yang benar (penyelenggaranya anak2
jurusan Indonesia, ingat?).
Sekadar
info, ide cerita ini gue dapet dari manga yang judulnya
Mirumu de Pon. Salah satu ceritanya adalah tentang seseorang
yang perasaan sukanya sama seseorang diambil dan akibatnya dia gak
inget samasekali kalau dia pernah suka sama orang itu. Gitchu (gila,
masih jaman pake ‘gitchu’).
Nah,
jadi apa tujuannya cerpen ini dimuat di blog ini? Pertama, karena
gue udah lumayan lama gak meng-update blog ini. Selain itu, yiah…
kali aja ada yang butuh hiburan.
WARNING:
Buat siapa pun yang berpikir bahwa semua kisah yang berbau cinta
antara cewek-cowok remaja bukan kisah yang bermutu, klik aja tanda
silang di sebelah pojok kanan atas. Karena cerita berikut adalah yang
semacam itu. yah, gue hanya gak mau lo menyesal.
Lupakan, Troya, Lupakan
Dari
dulu, Troya selalu mengikuti apa saja yang kusarankan. Apa saja. Ia
mempercayaiku lebih dari apapun, bahkan dirinya sendiri. Kami sudah
kenal satu sama lain sejak kami masih berumur lima tahun. Walaupun ia
laki-laki dan aku perempuan, aku yang selalu melindunginya waktu
kecil. Ia selalu saja dijahili anak-anak lain karena tak pernah
melawan. Kalau sudah begitu, aku akan datang menyelamatkannya. Lalu
aku akan memeluk badannya yang bergetar hebat karena ketakutan.
“Jangan nangis, Oya, anak-anak nakalnya sudah pergi, ” begitu
selalu kataku padanya.
Sekarang
tentu saja Troya, atau yang selalu kupanggil dengan Oya, tidak pernah
lagi menangis atau menggigil ketakutan karena dijahili. Sekarang ia
laki-laki hebat yang selalu berprestasi di kampus. Selain cerdas, ia
juga seringkali menjuarai turnamen taekwondo, prestasi yang tidak
akan membuat orang-orang percaya bahwa ketika kecil ia sangat lemah
dan cengeng.
Troya
yang sekarang memang nyaris sempurna. Tampan, cerdas, dan jago bela
diri. Namun, ada satu hal yang tidak semua orang tahu. Yaitu bahwa,
seperti yang tadi kukatakan, Troya selalu mempercayaiku dan
menurutiku. Ia layaknya boneka bagiku. Aku dapat mengaturnya sesuka
hati. Orang tua Troya mulanya sempat khawatir akan kenyataan ini.
Mereka sudah lama menyadari bahwa sesungguhnya Troya sangat
bergantung padaku. Namun, karena mereka pikir ini akan berubah
seiring dengan bertambahnya usia Troya, mereka tidak terlalu ambil
pusing. Tetapi kenyataan yang ada sekarang adalah Troya masih menjadi
bonekaku. Menyenangkan sekali, ya?
Aku
selalu tahu apa yang dipikirkan Troya bahkan tanpa ia mengatakannya
sekalipun. Mungkin kedekatan kami sejak kecil menjalin semacam
hubungan telepati di antara kami. Kalaupun terkadang ada hal yang
ingin disembunyikannya dariku, aku selalu berhasil membuatnya
bercerita dan mengungkapkan rahasianya. Termasuk kali ini, ketika
Troya jatuh cinta.
Pertama
kali aku menyadari bahwa ia sedang menyukai seseorang adalah ketika
untuk pertama kalinya ia tidak tertarik akan apa yang sedang
kuceritakan. Segera aku menyadari bahwa mata Troya mengarah ke tempat
lain selagi aku bicara.
“Oya, dengar nggak sih?” aku agak kesal.
“Hah? Yah… ya, aku dengar”
“Dengar
apa?”
“Heh?
Hmm… yiah…”
“Tuh, kan… nggak dengar…”
Troya
cepat-cepat mengalihkan pandangannya. Aku kemudian mengikuti arah
pandangan Troya. Seorang gadis. Tidak diragukan lagi, dari tadi Troya
memperhatikan gadis berbaju merah jambu yang sedang bercanda dengan
teman-temannya sambil menikmati makan siang mereka. Gadis itu cantik
sekali, kulitnya putih bersih, semu merah di pipinya makin terlihat
jelas kala ia tertawa. Sihir. Gadis itu telah menyihir Troyaku.
“Cantik yah?” kataku pelan.
“Ya…sangat,” Troya menanggapi setengah sadar.
“Hah? Ngomong apa sih, Yuna?” Troya tiba-tiba sadar.
“Hi
hi hi hi, lucu sekali…kamu suka cewek merah jambu itu khan, Oya?”
Troya
tidak menjawab, melainkan meneruskan makan siangnya yang terhenti
sementara ia sibuk memperhatikan gadis merah jambu itu. Wajahnya
bersemu merah jambu juga, malu.
“Jangan lihat aku terus, Yuna. Habiskan saja makananmu,” katanya
sambil memandangku sebal. Aku tersenyum lagi.
Sejak
kejadian gadis merah jambu itu, Troya sangat sering makan siang di
kantin fakultas sebelah, tempat kami pertama kali melihat si gadis
jambu. Troya pasti sedang mencari kesempatan untuk berkenalan dengan
gadis jambu, atau paling tidak, melihatnya lebih sering. Namun, ia
tidak mau mengaku saat hal itu kutanyakan padanya.
“Ternyata somaynya lebih enak daripada yang ada di kantin kita,”
begitu alasan Troya. Tapi, tentu saja aku tidak semudah itu
ditipunya. Sudah kubilang ‘kan, aku bisa membaca pikirannya.
Sejak
aku tidak kuliah selama tiga hari, aku tidak pernah lagi bertemu
Troya. Terakhir kali aku melihatnya adalah ketika ia menjengukku yang
terserang flu berat. Entah ke mana anak itu. Ketika aku
menghubunginya, ia hanya minta maaf karena ia terlalu sibuk hingga
tidak sempat lagi makan siang bersamaku. Alasan klasik.
Troya kelihatan sangat terkejut ketika aku mendatanginya ke rumah
sore itu sepulang kuliah.
“Yuna?”
“Ya, apa kamu tidak kenal aku lagi?”
“Bukan,
tapi… yah…masuk deh”
Aku
kemudian menyadari bahwa ada seorang gadis yang sedang duduk di
ruang tamu. Si gadis jambu. Kali ini pun ia memakai baju merah jambu.
Apa dia hanya punya baju warna itu? Tapi yang penting adalah: APA
yang dia lakukan di sini? Aku memandang Troya menuntut penjelasan.
Troya salah tingkah, matanya menghindari pandanganku.
“Annika, ini Yuna, temanku sejak kecil,”
Gadis
jambu itu mengulurkan tangannya sambil tersenyum manis sekali. Aku
menyambutnya dengan ogah-ogahan. “Yuna,” aku
memperkenalkan diri. “Annika,” katanya.
“Nah,
Yuna, ada apa nih sore-sore ke sini?” tanya Troya.
“Sejak
kapan aku harus punya alasan untuk ke rumahMU?” aku memandangnya
sengit.
“Eh,
maksudnya…”
“Aku pulang,” ujarku sambil buru-buru menuju pintu keluar.
“Lho? Yuna? Mau ke mana? Na! Yuna!”
Teriakan
Troya tidak menyurutkan langkahku sedikit pun. Aku kesal padanya. Ia
pasti sekarang sudah jadian dengan si jambu itu. Siapa tadi namanya?
Nita? Anita? Ah… sudahlah. Aku tidak peduli siapapun nama si Jambu.
Yang aku tidak habis pikir adalah kenapa Troya tidak pernah cerita
apapun padaku soal ini? Maksudku, bukankah aku ini sahabatnya?
“Habis,
aku takut kamu marah, Na,” itu alasan Troya saat kutanya kenapa ia
mesti merahasiakan kedekatannya dengan si Jambu itu dariku.
“Marah?
Kenapa aku mesti marah?” suaraku meninggi
“Tuh ‘kan, marah…”
“Aku nggak marah, Oya!” suaraku malah makin meninggi dari
sebelumnya.
“Kamu cemburu ya?”
“Hah?
Aku? Cemburu? Sama si Jambu?”
“Habis,
waktu kamu ngeliat dia tempo hari, pandangan kamu galak sekali, sih…”
Aku
terdiam. Benarkah aku cemburu? Entahlah.
“Na?
Yuna? Kok bengong?” Troya melambai-lambaikan tangannya di depan
wajahku. Aku tidak menjawab, melainkan berbalik dan pergi
meninggalkan Troya.
Cemburu?
Kata itu berulang-ulang terngiang di benakku. Tidak mungkin. Tapi aku
memang sangat tidak suka mengetahui si Jambu itu jadi lebih penting
daripada aku bagi Troya. Biasanya hanya aku yang paling dekat dengan
Troya. Semua gadis-gadis yang tertarik pada Troya selalu mundur
ketika menyadari keberadaanku. Karena itulah kenyataan yang ada
sekarang membuatku merasa tersisihkan. Si Jambu itu merebut bonekaku.
Ia merebut Troya. Tapi, apa yang harus kulakukan sekarang? Membunuh
si Jambu? Tidak, tidak seekstrim itu Yuna, kataku pada diri sendiri.
Tidak selama aku masih punya akal sehat.
Si
Jambu benar-benar telah menguasai Troyaku. Kini aku nyaris tidak
pernah bertemu dengannya lagi. Bahkan aku tidak pernah lagi bertemu
dengannya di kantin, apalagi akhir minggu. Si Jambu itu pasti tukang
sihir, tidak mungkin tidak.
Ketika
sudah sekitar sebulan aku tidak bertemu Troya, aku tidak tahan lagi.
Aku harus menemuinya. Jangan-jangan si Jambu sudah menghapus ingatan
Troya tentangku sehingga ia samasekali tidak ingat aku.
“Oya, aku ke rumahmu ya, sekarang?” aku menelepon untuk
memastikan Troya ada di rumah. Sekarang ‘kan malam minggu.
“Yah… datang aja, kenapa mesti telepon segala?”
“Aku cuma mau memastikan kamu ada di rumah. Sekarang ‘kan malam
minggu. Hmm… Benar nih nggak mau pergi? Nggak keluar sama si
Jambu?”
“Annika, namanya Annika. Kamu mau ke sini? Ya udah, aku tunggu.”
Telepon langsung ditutup. Aku merasa ada yang tidak beres dengan
Troya. Ada apa, nih?
Troya
menyambutku dengan muka berantakan. Matanya merah, mukanya sembab. Ia
mempersilakanku masuk tanpa kata-kata, hanya dengan menggerakkan
tangannya. Setelah beberapa saat berdiam diri, aku membuka
percakapan, “Si… eh… Annika, gimana?”
“Jangan ngomongin dia lagi, dong, Na”
“Lho? Kalian pacaran, ‘kan?”
Troya menghela napas panjang, “Nggak. Kami nggak pernah pacaran.
Baru deket aja. Ternyata dia udah punya pacar. Padahal aku pikir dia
juga suka.”
Dasar
nenek sihir. Benar ternyata dugaanku.
“Memang dia nggak pernah bilang kalau dia udah punya pacar?”
“Nggak… aku juga tahu soal itu dari temennya”
“Udah tanya sama orangnya langsung?”
“Nggak. Buat apa?”
“Tapi…”
“Dia
cuma main-main sama aku, Yuna. Mungkin hanya lagi bosan sama
pacarnya. Entahlah. Tapi dia bikin aku berpikir kalau aku punya
kesempatan besar. Tapi, kenyataan nggak semudah itu, ‘kan?” Troya
tersenyum getir.
Aku
diam, tidak tahu harus menanggapi apa. Beberapa saat kemudian aku
menyadari bahwa Troya sedang menangis tanpa suara. Ia membenamkan
wajahnya ke lutut yang ditekuk. Refleks, aku membawanya ke pelukanku.
Aku mengelus punggungnya pelan-pelan, mencoba menenangkannya, persis
seperti saat kami masih kecil dulu. Troya memang selalu
membutuhkanku.
“Aku
sakit Na, sakit. Sangat sakit,” Troya terisak pelan.
I am
terrified of all things.
Frightened
of the dark.
I
am.
You
are taller than a mountain.
Deeper
than the sea.
You
are.
Hold
me.
Hold
me.
Take
me with you ’cause I’m lonely…*
Aku membiarkan Troya terus menangis menumpahkan perasaannya hingga
beberapa lama. Mungkin air mata bisa membantunya memulihkan luka.
Kemudian aku melepaskan pelukanku. Troya cepat-cepat menghapus bekas
air matanya. Aku menatap matanya dalam-dalam. Troya menatapku juga.
“Dengar ya, Oya. Jangan hanya gara-gara si Jambu itu…”
“Annika,” potong Troya
“Ya,
Annika,” ujarku tidak sabar. “Jangan hanya gara-gara dia kamu
menyiksa diri sendiri. Jangan sakit hanya gara-gara dia, okey?”
Sambil berbicara aku terus menatapnya tajam. Troya mengangguk
ragu-ragu.
“Sekarang, aku perlu kertas dan pulpen,”
“Hah?”
“Ambil saja, nanti kamu juga tahu,” perintahku tidak sabar. “Oh
ya, bawa korek api juga.”
“Sekarang, kamu tulis nama Annika di kertas itu,” perintahku
setelah Troya datang dengan benda-benda yang kuminta.
Troya
menatapku tidak mngerti, tapi dilakukannya juga apa yang kubilang. Ia
menulis nama Annika besar-besar, memenuhi halaman kertas itu. Setelah
selesai ia menatapku lagi, seakan menunggu perintah selanjutnya.
“Sekarang,
bakar kertasnya.”
Kedua alis Troya bertemu, menatapku keheranan.
“Bakar kertas yang ada nama si Jambu itu. Anngap kertas itu semua
kenangan yang kamu punya tentang Annika. Ketika kertas itu terbakar
habis, artinya pikiran kamu tentang Annika tidak ada lagi.
Habis.Musnah. Dan kamu tidak akan sakit lagi.”
Troya
masih memandangku dengan tatapan aneh selama sesaat.Tapi kelihatannya
ia mengerti, buktinya ia mulai membakar kertas itu seperti yang
kusuruh. Sementara api yang menyala membakar kertas itu pelan-pelan,
Troya terus menatapnya nyaris tanpa berkedip.
Sekarang kertas bertuliskan nama si Jambu habis sudah. Yang tersisa
hanyalah abu. Tidak kurang, tidak lebih. Troya menatap abu itu dengan
tatapan aneh. Terlihat seakan-akan ia sebenarnya tidak mau
membuatnya jadi abu begitu.
“Sudah baikan, Oya?”
“Yah… jauh lebih baik,” katanya. Dari ekspresi wajahnya aku
yakin ia benar-benar sudah lebih baik dari sebelumnya.
“Makasih ya, Yuna,” ucapnya sambil tersenyum tulus.
Aku
hanya mengangkat bahu, “Yeah… That’s what friends are
for”
Beberapa
hari sejak peristiwa-bakar-Annika itu Troya terlihat jauh lebih baik.
Yang lebih penting, ia sekarang tidak pernah menghilang lagi dari
sisiku. Kehidupan kembali seperti semula.
“Makan somay di FISIP, yuk Na!” ajak Troya ketika kami bertemu
saat makan siang.
“Yakin,
mau makan di sana?” Aku teringat si Jambu. Di sanalah Troya
melihatnya pertama kali. Bagaimana kalau tiba-tiba kalau Troya
bertemu lagi dengannya?
“Kenapa? Di sana ‘kan somaynya enak?”
“Yah… boleh, deh,” kataku sambil berdoa dalam hati agar tidak
bertemu si Jambu.
Ternyata doaku tidak terkabul. Buktinya si Jambu sedang menuju ke
sini sekarang, sambil tersenyum riang.
“Troya! Udah lama nggak ketemu kamu. Apa kabar nih?”
Troya menatap gadis yang baru saja menyapanya itu dengan tampang
bingung.
“Maaf,
apa kita pernah ketemu sebelumnya?” tanya Troya tanpa diduga.
Tawaku hampir meledak saat melihat reaksi yang timbul pada wajah si
Jambu.
“Akting bagus, Ya, tapi kamu nggak berhasil. Kamu ke mana aja sih?
Bahkan telepon aku juga nggak pernah.”
“Maaf, ya, tapi saya rasa kamu salah orang,” Troya kelihatan
sungguh-sungguh.
Perkataan
Troya barusan membuat si Jambu naik darah, “Kalau nggak mau ketemu
aku lagi, ya udah. Tapi nggak usah gini caranya. NORAK!” Sehabis
berkata begitu si Jambu cepat-cepat meninggalkan meja yang aku dan
Troya tempati.
Aku
tidak bisa lagi menahan tawa, “Ha ha ha ha… aktingmu barusan
boleh juga. Ha ha ha ha… kamu harus dapet piala citra,”
“Akting apa sih, Yuna?”
“Maksudku, kamu benar-benar kelihatan seakan-akan nggak kenal si
Jambu itu.”
“Jambu?
Nama cewek aneh tadi Jambu? Aneh banget. Kamu kenal, Na?”
Troya kelihatan sungguh-sungguh. Atau jangan-jangan ia meneruskan
aktingnya untuk mengerjaiku?
“Jangan
pura-pura lupa, Oya. KAMU yang kenal dia, bukan aku.”
“Hah? Masa sih?”
“Oya, berhenti bercanda dong.”
“Aku
nggak bercanda, Yuna. Memang aku nggak kenal cewek itu. Gimana
caranya aku kenal dia? Anak FISIP yang aku kenal ‘kan cuma si Tono,
temen sekelasku waktu SMA itu.”
Aku
menatap Troya lekat-lekat, berharap ia segera menghentikan lelucon
ini. Tapi ia benar-benar serius. Tidak mungkin akting. Selain itu,
Troya tidak pernah bisa berakting di depanku.
“Jadi, kamu benar-benar nggak kenal sama yang tadi?” aku mencoba
memastikan.
Troya menggelang ringan, “Dia pasti salah orang”
Tidak masuk akal, kataku dalam hati. Bagaimana mungkin? Tapi kemudian
ingatan tentang kertas dan api melintas di benakku. Aku tersenyum.
“Yah…
pasti salah orang, mukamu ‘kan pasaran, Oya,” ujarku sambil masih
tersenyum. Troya mencibir.
Dan kehidupan kembali seperti semula.
*
Lirik lagu Hold Me, Weezer
Hari Pertama
Lebaran memang hari kemenangan. Tapi, hari pertama kuliah setelah berlebaran? Jangan berharap banyak. Gue serius. Seperti yang tertera dalam diary gue berikut ini (Hah! BERIKUT INI! kalimat yang selelu ada dalam ujian: Jawablah soal berikut ini…)
Suara pertama yang didenger setelah bangun tidur:
Suara mama : "De, bangun. Dah jam enam"
Gue : (mengerang, lalu tidur lagi)
Makanan pertama yang gue makan: Nasi plus FIESTA Pok Pok. Asin banget, tapi gue gak punya pilihan lain.
Anak Jerman pertama yang gue temuin:
Nadya, yang datang dengan B XXXX OG dan menglakson gue dari belakang
Kesialan pertama:
Gue gak berhasil makan sampai jam EMPAT sore. Sebenernya pas anak2 makan jam setengah sepuluahan gue juga udah ada di kansas, tapi gak tau kenapa gue males mesen makanan sampai jam sebelas. Gue pesen nasi goreng.
Setelah kira2 lima belas menit, nasi goreng gue belum keliatan juga batang idungnya (ya iyalah, mana nasi punya idung). Gue cek ke si tukang nasi goreng: "mas, nasi gorengnya udah?"
U know what? Reaksi dia tidak lain tidak bukan adalah BENGONG. "Hah?" katanya. "Tapi tadi ‘kan saya udah mesen…" Dia cuma mengangguk-angguk sementara gue menahan marah.
setelah lama nunggu (lagi) nasi goreng gue belom ada juga. Pas gue tanya, "nasinya abis, mbak". Jahanam.
Keharusan untuk menyambung hidup membawa gue ke counter gado-gado. Pas gue lagi nunggu gado-gado, anak2 semeja pada berdiri. "Mau ke mana?" Gue panik karena mau ditinggal. "Pada mau ke margo (yeah… salah satu mal baru gitu lah di margonda. Atepnya kayak garnish puding). Gue terjebak dalam dua pilihan: ikut temen2 gue atau menunggu gado2. Akhirnya gue memutuskan untuk ikut anak2 aja. Gue mau beli kaos.
Sampe di margo, ternyata kaos yang lengan panjang gada. Urgh.
Kemudian, didorong keinginan memperbaiki nasib bangsa, kami kembali ke kampus dan sampe di sana tepat jam 1. Great. Gue gak punya waktu untuk makan siang.
Selesai kuliah, gue ke kansas. Tentunya, untuk makan. Tapi, sepertinya nasib baik memang tidak berpihak pada gue hari itu. Makanan ternyata pada abis. Baru sekali ini selama dua tahun gue susah nyari makanan di kantin kampus gue sendiri pada jam tiga siang. ternyata masih ada harapan: mie instan. gue bayangin, abis makan, kenyang, ngembaliin buku ke zoe, trus pulang. dunia indah. tapi kenyataan gak sebagus itu. tragedi nasi goreng terulang lagi pada mie rebus. Akhirnya, males nunggu,gue makan makanan pertama yang gue liat: ayam goreng berpotongan kecil yang dimakan tanpa sayur (karena emang udah abis)dan sambel sisa, dengan harga 5000. Rampok.
Masih ada lagi. Tiba2 gue ketemu nadia yang ngasih tau bahwa harus rapat hari itu. Bagus. Bagus sekali. Can’t be better. Setelah makan jadilah gue ke ruang senat. Setelah menunggu nadia yang sedang solat gue dikasih tau bahwa rapatnya gak jadi. WHAT???
Dengan kesal akhirnya gue pulang juga. Sendirian. Trus tiba2 gue inget kalo gak bisa langsung pulang karena harus balikin buku yang gue pinjem ke zoe. Setelah balikin buku, gue minjem beberapa buku lagi. Lumayan buat menghilangkan kesal. Sampe di rumah gue agak tenang sampe inget bahwa besoknya ada ujian. Hhhh…. Emang, kayaknya sesekali kita harus kena sial beruntun seperti ini.
NB: Untungnya gue masih bisa tidur nyenyak. kalo gak, gue udah gila beneran ‘kali.
Uncategorized | Comment (1)… dan Ramadhan Berakhirlah
Ramadhan adalah bulan yang selalu spesial. Makanya, setiap muslim akhirnya
memperlakukan bulan ini dengan sangat istimewa.
Pertama, orang2 Islam berpuasa pada bulan ini (informasi yang berguna,
bukan?). Tapi, menurut gue, kita (orang Indonesia) itu puasanya manja. Tempat2 makan ditutup kain atau emang bener2
cuti selama tiga puluh hari itu. Beberapa daerah di luar Jakarta malah melarang warung2 makan dan sejenisnya
beroperasi selama Ramadhan dengan mengeluarkan Perda khusus. Padahal, menahan
lapar dan haus ‘kan puasa yang paling dangkal. Masih ada yang jauh lebih berat
(terutama bagi gue, huhhuhuhuhu), yaitu mengendalikan emosi.
Salah satu akibat ‘puasa manja’ ini terlihat pada cerita adik gue: katanya, pas
dia ke Dufan akhir Ramadhan lalu ada salah satu pengunjung yang bilang, “Gue kayaknya masih kuat puasa
deh…” di pintu masuk. Namun, beberapa jam kemudian orang yang sama terlihat
minum sebelum buka puasa. Nah?
Hal kedua yang spesial soal Ramadhan adalah kemampuannya mengencangkan tali
silahturahim, walaupun itu artinya kebut2an di jalanan menjelang maghrib biar
bisa buka di rumah ataupun susahnya nyari tempat dan waktu untuk ngadain acara
buka puasa bersama. Sholat tarawih juga salah satu kegiatan khas bulan Ramadhan
yang bisa berfungsi demikian. Kapan lagi kita bisa ngobrol dengan tetangga satu
kompleks yang rumahnya di ujung sana? Kapan lagi punya alasan untuk salaman
dengan orang yang gak dikenal seusai solat? Kapan lagi lo tahu bahwa ada
tetangga baru yang ganteng? (???)
Hal2 yang kecil pun bisa bikin gue (mungkin juga lo) kangen sama Ramadhan.
Ngebangunin kakak atau adik pas sahur, suara dari TOA masjid yang bangunin
orang sahur, adzan subuh maghrib di TV, orang-orang memakai sarung
berseliweran, rendang buatan mama, bahkan suara petasan yang disulut anak
tetangga.
Semoga Ramadhan kemarin membawa berkah dan semoga kita semua bisa sampai pada
Ramadhan-Ramadhan berikutnya. Amin.
NB. Mohon maaf lahir dan batin
Religion | Comment (0)Sugar, Sugar
By:
The
Archies
(Jeff Barry - Andy Kim)
1969
Chorus:
Sugar, ah honey honey
You are my candy girl
And you’ve
got me wanting you
Honey, ah sugar sugar
You are my candy girlAnd you’ve got me wanting you
I
just can’t believe the loveliness of loving you
(I just can’t
believe it’s true)
I just can’t believe the wonder of this
feeling too
(I just can’t believe it’s true)
Chorus
When
I kissed you girl I knew how sweet a kiss could be
(I know how
sweet a kiss could be)
Like a summer sunshine pour your sweetness
over me
(Pour your sweetness over me)
Oh,
sugar
Pour a little sugar on it, honey
Pour a little sugar on
it, Baby
I’m gonna make your life so sweet
Yeah, yeah, yeahPour a little sugar on it, oh yeah
Pour a little sugar on it,
honey
Pour a little sugar on it, Baby
I’m gonna make your
life so sweet
Hey, hey, hey
Pour a little sugar on me,
honey
Sugar, ah honey honey
You are my candy girl
And
you’ve got me wanting you
Oh . . .
Honey, ah sugar sugar
You
are my candy girl . . .dari: http://home.att.net/~bubblegumusic/songsugar.htm
Well, …. lagu inilah yang belakangan sering gue dendangkan. Semuanya gara-gara iklan GULAKU ituwh… iklan yang sangat manis dan lengkaplah kemanisannya berkat lagu ini. Gue selama ini nanya2 anak2 dan gada yang tahu itu lagu siapa trus akhirnya nemu juga berkat teknologi search engine.
uebrigens, udah lama juga gak up-date blog ini. pada kangen yah? ha ha ha ….
ya sudah, selamat menikmati hidup dan selamat menjalankan ibadah di bulan detosifikasi (buat yang muslim).
See ya around!
Music | Comment (0)