Untuk Raditya Dika: Mana Pesan Moralnya?

December 11th, 2007  Tagged , , ,

Gue pernah bilang ama Ara, “Ra, masa’ adek gue ngefans banget ama Raditya Dika (selanjutnya akan disebut RD). Tiap minggu dia selalu ngebaca blognya gitu…” Dari kalimat itu gue ingin mengesankan bahwa gue prihatin akan keadaan adek gue. Tapi, sebenernya gue juga ngefans banget ama penulis itu, cuma entah kenapa gue agak males untuk mengakui. Nggak ada alasan khusus, sih. Gitu deh.

Bagaimanapun, perasaan tidak bisa dibohongi. Beberapa hari sebelum “UI Bookfest” berlangsung gue baca posternya yang menyatakan bahwa RD akan datang (dalam wujud asli) sebagai salah satu pembicara dalam talk show “From Blogger to Author.” Gue melihat poster itu lebih dekat, hampir tidak percaya. Ternyata gue tidak berkhayal. RD akan datang!! Gue berdoa agar seluruh panitia diberkati dan dilindungi selalu. Semoga kuliah mereka lancar, selalu dapet nilai A, dan tidak terkena gangguan pencernaan. Amin.

Singkat cerita, hari Kamis yang dinanti datang juga. Selepas kuliah gue bergegas ke audit  gedung IX… dan gue tidak datang dengan sia-sia. Si pelawak yang gue tunggu benar-benar menghibur. Datang dengan T-Shirt biru tua dan celana jeans abu2 gelap tanpa ikat pinggang (??). Hampir sepanjang acara para hadirin tertawa mendengar cerita-ceritanya. Seakan-akan gue mendengar Kambing Jantan versi sandiwara radio.

Namun, all good things always come to an end. Suasana dirusak oleh penanya dari FISIP yang berkata begini, “Bukunya ‘kan humoris banget, yah. Tapi, pernah nggak kalian (RD dan Miund, blogger-to-author yang juga jadi pembicara) memikirkan pesan moralnya?” Pertanyaan itu dissambut oleh teriakan “Huuu….” Si Mas Penanya cengar-cengir. Walau begitu, pertanyaannya tetap dijawab dengan: mungkin memang tidak ada pesan moral khusus karena tujuan awal blog memang hanya untuk curhat, bukan dipublikasikan ke orang lain. Dasar pertanyaan aneh. Blog itu kan web log—buku harian maya. Orang mana di muka bumi ini yang menulis diari untuk menyampaikan pesan moral?

Lagipula, kalau dia memang bisa membaca, tidak semua tulisan jenis ‘buku blog’ itu kosong. Tanpa pesan. Contohnya aja cerita tentang Mbip yang gue bahas di tulisan sebelumnya. Dari situ kita bisa ambil kesimpulan bahwa kalo ngejek orang jangan keterlaluan. Bisa fatal. Cerita tentang RD yang pake kostum badut juga bisa memberi kita sesuatu. Bahwa pekerjaan badut yang kelihatannya gitu-gitu doang sama sekali nggak gampang. Disalamin ama anak kecil lah, kostum yang panas… See? Tergantung dari pembaca mau berpikir lebih dalam apa nggak, ‘kan? Sedih juga gue kalo inget Mas Penanya itu anak UI. Bikin malu aja. Pasti dulu dia SPMBnya pake joki. Yakin gue. Ya sudah, daripada ngomongin anak FISIP itu lebih baik saya berhenti menulis dan mengerjakan PR Bahasa Jepang Sumber.

Mata Ashita! (Sampe besok!)

NB: Kenapa ‘sampe besok’? karena yang gue bisa baru itu. Huhuhu.




Comments RSS

Leave a Reply

Name

Email

Website

Speak your mind