Skripsi Ajaib Mbak Dian Sastro

December 11th, 2007  Tagged , ,

Gue udah sering bilang sama diri sendiri:jangan suka ngatain orang. Tapi, tetep aja sesekali gue melakukan. Akibatnya tadi siang, seperti kata Chill, “Lo disentil Allah tuh.”
Jadi, ceritanya, gue denger dari Oni soal skripsi Mbak Dian Sastro. Dia bilang, dia gak ngerti karena tidak seperti skripsi anak bahasa yang terdiri dari pendahuluan, teori, dan isi. Gue jadi penasaran. Jadilah siang tadi pas gue ke perpus gue pinjem tuh skripsi si Mbak bintang LUX. Sbenarnya itu juga karena dorongan Risma (gak mau berasa salah sendiri gitu, gue).

Akhirnya gue buka tuh skripsi, dibaca-baca. Pd bag pndahuluan sama: ada latar belakang, metode penelitian, dan lain-lain.Tapi di bab selanjutnya bener2 aneh (menurut gue, pada mulanya) Gada bab khusus landasan teori. Sepertinya ditulis dengan cara menggabungkan teori dan analisis, hanya saja dibagi mjd bab-bab sesuai pembahasan. Gue udah ngomong, “Ih, aneh, aneh,… gada korpus datanya.” (padahal sebenernya kalau dipikir-pikir emang begitu cara nulisnya. Memang tidak ada korpus data tertentu yg diteliti. Intinya, gue nggak ngerti aja, gitu skripsi yang berbeda dr biasanya. Si Adi mungkin akan nulis yg kayak gt.)

Setelah merasa gada lg yang bisa dikatai aneh dari skripsi itu gue ngobrol2 ama chill, ketawa2, ngomongin hal yang ga penting (satu lagi: jangan kebanyakan ketawa. ADa hadisnya tuh. Bisa mematikan hati.)Trus, di tengah2 obrolan dengan Chill gue bilang, “Skripsinya Mbak Dian mana?” Gue baru sadar bahwa benda itu udh gada lg di atas meja gue. gue bolak-balik lantai 1,2,3 nyariin. Sampe nanya ke petugas perpus yg hariĀ  ini pake kemeja pink. “Saya dari tadi nggak ngangkat skripsi Mbak.” Gue kelabakan. Tiap orang yg lagi baca skripsi gue curigai, trus gue liat skripsinya. Bukan. Di mana, Oh Tuhan????

Akhirnya gue nanya ke ibu yang jaga di bag skripsi, tesis, dan disertasi. Siapa tahu aja gue tiba2 blank dan mengembalikan skripsi itu tanpa sadar. Ternyata nggak. KTM yang jadi jaminan masih ada di situ. Berarti skripsi itu masih tanggung jawab gue. “Saya nggak mau tahu, ya. Harus kembali,” kata si Ibu. Gue cuma bisa bilang iya sambil mengangguk keras2.

Gue ke lantai atas lagi, tempat tadi gue duduk sama Chill dan Risma. PUter2 sambil dalam hati berdoa dan berjanji ga bakal ngatain kerjaan siapapun lagi (terlebih kalo ada nilai skripsinya A. Buktinya ditaro di perpus.) Und weisst du was? Ketika gue utk keskian kalinya lewat di rak bag buku korea yg terletak tdk jauh dr meja gue, di atas rak itu ada buku tebal putih yg bersinar2. Mungkinkah… Gue meraihnya dan ternyata ITU DIA!!!Kenapa dr tadi gue lewat2 situ dan gak ngeliat???

Gue membawa skripsi ajaib itu ke hadapan Chill dan Risma. “Ketemu di mana?” tanya mereka.
“Di situ,” tunjuk gw ke rak rendah yang terletak tidak sampai 3meter dr meja gue. “Mkanya, De. Jngn ngatain orang,” kata Chill.
“Iya, nih” gue lalu beristighfar dua kali.

Ck, ck, ck, daripada ngatain orang ‘kan mending cari bahan buat Aufsatz.

(mudah2an gada anak Jerman yang tertarik baca, amin. Bisa abis gue.)




One Response to “Skripsi Ajaib Mbak Dian Sastro”

  1.   dias 0703110062 on March 13, 2008 12:40 am

    dasar edan….

Comments RSS

Leave a Reply

Name

Email

Website

Speak your mind