Cinta Laura, Bahasa, dan Arogansi Kita
Waktu itu (yah, waktu itu deh
pokoknya) gue nonton infotainment yang saat itu membahas para pemain sinetron
yang logatnya kurang Indonesia, dalam hal ini Miller dan Cinta Laura, tapi (sorry
penggemar Miller) di tulisan ini gue hanya akan membahas yang pertama karena
kelihatannya lebih fenomenal.
Gue dan temen2 juga banyak orang
lain mengejek-ejek Cinta Laura karena bahasa Indonesia yang terpatah-patah dan
bercampur dengan bahasa Inggris. Gue gak perlu jelaskan kenapa. Kesalahan dan
‘keanehan’ orang lain adalah salah satu hiburan terbaik bagi sebagian orang.
Tapi,di infotainment yang gue sebut di atas ada satu komen tentang Mbak Cinta
yang menurut gue agak ekstrim dan mencerminkan pemikiran yang tidak terbuka.
Komen tersebut berasal dari seorang wanita muda. Dia bilang, “Cinta Laura? Agak
kurang suka, ya… karena bahasa indonesianya kebule-bulean gitu…” Weks? Lo gak
suka orang hanya karena logatnya? Ck, ck, ck… (Gue lebih geuleuh sama orang
Indonesia
aseli yang nyelip2in kata2 inggris dgn anehnya saat ngomong)
Yah… maksud gue, dia berlogat
seperti itu ‘
kan
bukannya gada penjelasan. Dia berbahasa
Indonesia
hanya di lokasi syuting
(yang belum lama juga dijalani). Selain itu, menurut pengamatan gue, memang
lidah yang biasa berbahasa ‘bule’ sulit untuk bisa fasih bahasa
Indonesia
.
Logis.
Cinta Laura bukanlah korban
pertama. Salah satunya bisa dibaca di buku Raditya Dika yang baru, Radikus
Makankakus: Bukan Binatang Biasa. Di situ diceritakan tentang Mbip, anak
pindahan dari
Indonesia
timur. Sejak pindah dia diejek-ejek ama temen-temennya di
Jakarta
. Salah satu sebabnya adalah logatnya
yang tidak
Jakarta
dan kekurangterampilan dia berbahasa seperti teman-teman barunya. Ejekan itu
akhirnya berbuntut serius (untuk lengkapnya lo baca bukunya aja).
Mungkin dengan mengejek seperti itu
kita menunjukkan bahwa kita berada dalam posisi yang lebih baik. Tapi, apa
benar kita lebih baik dari Cinta Laura? Apa yang sudah kita lakukan di umur 14?
Apa benar teman-teman Jakarta Mbip lebih baik dari dia hanya karena tahu kapan
harus menggunkan kata sapaan ‘gue’? Di atas itu semua, apa benar bahasa
Indonesia kita bagus? Setelah menonton Snap Shot Metro TV lalu tentang
kesalahan pemakaian bahasa indonesia, gue jadi makin yakin bahwa (selain gue) banyak
orang Indonesia yang nggak bisa bahasa Indonesia dengan baik dan benar,
termasuk pejabat!
Nah, jadi, mulai sekarang kalo lo
lagi naik angkot dan di sebelah lo ada dua anak sekolah yang berbincang-bincang
seperti ini:
Anak Sekolah 1 : Nonton, yuk. Katanya Dendam Nyi
Blorong III udah tayang tuh
Anak Sekolah 2 : Emang lo nggak belajar buat ujian
besok apah?
Anak Sekolah 1 : Ujian sih, tapi bahasa Indonesia doang
kok
Lo bilang aja ama dia : Liat tuh Cinta Laura, nggak bisa bahasa
Indonesia
!
Mari, belajar berbahasa
Indonesia
yang baik dan benar.
Cukup sekian dan terima kasih.
Science |Leave a Reply