Troya

November 14th, 2006

Hai!
Yang akan lo baca ini adalah versi asli cerpen yang (EHM!)
alhamdulillah menang di FALASIDO (Festival Bulan Bahasa Indonesia)
yang diadakan oleh anak2 jurusan Sastra Indonesia UI. Kenapa versi
asli ini diubah ketika mengikuti lomba? Karena persyaratan lombanya
adalah memakai bahasa Indonesia yang benar (penyelenggaranya anak2
jurusan Indonesia, ingat?).

Sekadar
info, ide cerita ini gue dapet dari manga yang judulnya
Mirumu de Pon. Salah satu ceritanya adalah tentang seseorang
yang perasaan sukanya sama seseorang diambil dan akibatnya dia gak
inget samasekali kalau dia pernah suka sama orang itu. Gitchu (gila,
masih jaman pake ‘gitchu’).

Nah,
jadi apa tujuannya cerpen ini dimuat di blog ini?
Pertama, karena
gue udah lumayan lama gak meng-update blog ini. Selain itu, yiah…
kali aja ada yang butuh hiburan.

 

WARNING:
Buat siapa pun yang berpikir bahwa semua kisah yang berbau cinta
antara cewek-cowok remaja bukan kisah yang bermutu, klik aja tanda
silang di sebelah pojok kanan atas. Karena cerita berikut adalah yang
semacam itu. yah, gue hanya gak mau lo menyesal.
 

 

Lupakan, Troya, Lupakan

 

Dari
dulu, Troya selalu mengikuti apa saja yang kusarankan. Apa saja. Ia
mempercayaiku lebih dari apapun, bahkan dirinya sendiri. Kami sudah
kenal satu sama lain sejak kami masih berumur lima tahun. Walaupun ia
laki-laki dan aku perempuan, aku yang selalu melindunginya waktu
kecil. Ia selalu saja dijahili anak-anak lain karena tak pernah
melawan. Kalau sudah begitu, aku akan datang menyelamatkannya. Lalu
aku akan memeluk badannya yang bergetar hebat karena ketakutan.
“Jangan nangis, Oya, anak-anak nakalnya sudah pergi, ” begitu
selalu kataku padanya.

Sekarang
tentu saja Troya, atau yang selalu kupanggil dengan Oya, tidak pernah
lagi menangis atau menggigil ketakutan karena dijahili. Sekarang ia
laki-laki hebat yang selalu berprestasi di kampus. Selain cerdas, ia
juga seringkali menjuarai turnamen taekwondo, prestasi yang tidak
akan membuat orang-orang percaya bahwa ketika kecil ia sangat lemah
dan cengeng. 

Troya
yang sekarang memang nyaris sempurna. Tampan, cerdas, dan jago bela
diri. Namun, ada satu hal yang tidak semua orang tahu. Yaitu bahwa,
seperti yang tadi kukatakan, Troya selalu mempercayaiku dan
menurutiku. Ia layaknya boneka bagiku. Aku dapat mengaturnya sesuka
hati. Orang tua Troya mulanya sempat khawatir akan kenyataan ini.
Mereka sudah lama menyadari bahwa sesungguhnya Troya sangat
bergantung padaku. Namun, karena mereka pikir ini akan berubah
seiring dengan bertambahnya usia Troya, mereka tidak terlalu ambil
pusing. Tetapi kenyataan yang ada sekarang adalah Troya masih menjadi
bonekaku. Menyenangkan sekali, ya?

Aku
selalu tahu apa yang dipikirkan Troya bahkan tanpa ia mengatakannya
sekalipun. Mungkin kedekatan kami sejak kecil menjalin semacam
hubungan telepati di antara kami. Kalaupun terkadang ada hal yang
ingin disembunyikannya dariku, aku selalu berhasil membuatnya
bercerita dan mengungkapkan rahasianya. Termasuk kali ini, ketika
Troya jatuh cinta.

Pertama
kali aku menyadari bahwa ia sedang menyukai seseorang adalah ketika
untuk pertama kalinya ia tidak tertarik akan apa yang sedang
kuceritakan. Segera aku menyadari bahwa mata Troya mengarah ke tempat
lain selagi aku bicara.

“Oya, dengar nggak sih?” aku agak kesal.

“Hah? Yah… ya, aku dengar”

Dengar
apa?”

Heh?
Hmm… yiah…”

“Tuh, kan… nggak dengar…”

Troya
cepat-cepat mengalihkan pandangannya. Aku kemudian mengikuti arah
pandangan Troya. Seorang gadis. Tidak diragukan lagi, dari tadi Troya
memperhatikan gadis berbaju merah jambu yang sedang bercanda dengan
teman-temannya sambil menikmati makan siang mereka. Gadis itu cantik
sekali, kulitnya putih bersih, semu merah di pipinya makin terlihat
jelas kala ia tertawa. Sihir. Gadis itu telah menyihir Troyaku.

“Cantik yah?” kataku pelan.

“Ya…sangat,” Troya menanggapi setengah sadar.

“Hah? Ngomong apa sih, Yuna?” Troya tiba-tiba sadar.

Hi
hi hi hi, lucu sekali…kamu suka cewek merah jambu itu khan, Oya?”

Troya
tidak menjawab, melainkan meneruskan makan siangnya yang terhenti
sementara ia sibuk memperhatikan gadis merah jambu itu. Wajahnya
bersemu merah jambu juga, malu.

“Jangan lihat aku terus, Yuna. Habiskan saja makananmu,” katanya
sambil memandangku sebal. Aku tersenyum lagi.

Sejak
kejadian gadis merah jambu itu, Troya sangat sering makan siang di
kantin fakultas sebelah, tempat kami pertama kali melihat si gadis
jambu. Troya pasti sedang mencari kesempatan untuk berkenalan dengan
gadis jambu, atau paling tidak, melihatnya lebih sering. Namun, ia
tidak mau mengaku saat hal itu kutanyakan padanya.

“Ternyata somaynya lebih enak daripada yang ada di kantin kita,”
begitu alasan Troya. Tapi, tentu saja aku tidak semudah itu
ditipunya. Sudah kubilang ‘kan, aku bisa membaca pikirannya. 

Sejak
aku tidak kuliah selama tiga hari, aku tidak pernah lagi bertemu
Troya. Terakhir kali aku melihatnya adalah ketika ia menjengukku yang
terserang flu berat. Entah ke mana anak itu. Ketika aku
menghubunginya, ia hanya minta maaf  karena ia terlalu sibuk hingga
tidak sempat lagi makan siang bersamaku. Alasan klasik.

Troya kelihatan sangat terkejut ketika aku mendatanginya ke rumah
sore itu sepulang kuliah.

“Yuna?”

“Ya, apa kamu tidak kenal aku lagi?”

Bukan,
tapi… yah…masuk deh”

Aku
kemudian menyadari bahwa ada seorang gadis yang sedang duduk di
ruang tamu. Si gadis jambu. Kali ini pun ia memakai baju merah jambu.
Apa dia hanya punya baju warna itu? Tapi yang penting adalah: APA
yang dia lakukan di sini? Aku memandang Troya menuntut penjelasan.
Troya salah tingkah, matanya menghindari pandanganku.

“Annika, ini Yuna, temanku sejak kecil,”

Gadis
jambu itu mengulurkan tangannya sambil tersenyum manis sekali. Aku
menyambutnya dengan ogah-ogahan. “Yuna,” aku
memperkenalkan diri. “Annika,” katanya.

Nah,
Yuna, ada apa nih sore-sore ke sini?” tanya Troya.

Sejak
kapan aku harus punya alasan untuk ke rumahMU?” aku memandangnya
sengit.

Eh,
maksudnya…”

“Aku pulang,” ujarku sambil buru-buru menuju pintu keluar.

“Lho? Yuna? Mau ke mana? Na! Yuna!”

Teriakan
Troya tidak menyurutkan langkahku sedikit pun. Aku kesal padanya. Ia
pasti sekarang sudah jadian dengan si jambu itu. Siapa tadi namanya?
Nita? Anita? Ah… sudahlah. Aku tidak peduli siapapun nama si Jambu.
Yang aku tidak habis pikir adalah kenapa Troya tidak pernah cerita
apapun padaku soal ini? Maksudku, bukankah aku ini sahabatnya?

Habis,
aku takut kamu marah, Na,” itu alasan Troya saat kutanya kenapa ia
mesti merahasiakan kedekatannya dengan si Jambu itu dariku.

Marah?
Kenapa aku mesti marah?” suaraku meninggi

“Tuh ‘kan, marah…”

“Aku nggak marah, Oya!” suaraku malah makin meninggi dari
sebelumnya.

“Kamu cemburu ya?”

Hah?
Aku? Cemburu? Sama si Jambu?”

Habis,
waktu kamu ngeliat dia tempo hari, pandangan kamu galak sekali, sih…”

Aku
terdiam. Benarkah aku cemburu? Entahlah.

Na?
Yuna? Kok bengong?” Troya melambai-lambaikan tangannya di depan
wajahku. Aku tidak menjawab, melainkan berbalik dan pergi
meninggalkan Troya.

Cemburu?
Kata itu berulang-ulang terngiang di benakku. Tidak mungkin. Tapi aku
memang sangat tidak suka mengetahui si Jambu itu jadi lebih penting
daripada aku bagi Troya. Biasanya hanya aku yang paling dekat dengan
Troya. Semua gadis-gadis yang tertarik pada Troya selalu mundur
ketika menyadari keberadaanku. Karena itulah kenyataan yang ada
sekarang membuatku merasa tersisihkan. Si Jambu itu merebut bonekaku.
Ia merebut Troya. Tapi, apa yang harus kulakukan sekarang? Membunuh
si Jambu? Tidak, tidak seekstrim itu Yuna, kataku pada diri sendiri.
Tidak selama aku masih punya akal sehat.

Si
Jambu benar-benar telah menguasai Troyaku. Kini aku nyaris tidak
pernah bertemu dengannya lagi. Bahkan aku tidak pernah lagi bertemu
dengannya di kantin, apalagi akhir minggu. Si Jambu itu pasti tukang
sihir, tidak mungkin tidak. 

Ketika
sudah sekitar sebulan aku tidak bertemu Troya, aku tidak tahan lagi.
Aku harus menemuinya. Jangan-jangan si Jambu sudah menghapus ingatan
Troya tentangku sehingga ia samasekali tidak ingat aku.

“Oya, aku ke rumahmu ya, sekarang?” aku menelepon untuk
memastikan Troya ada di rumah. Sekarang ‘kan malam minggu.

“Yah… datang aja, kenapa mesti telepon segala?”

“Aku cuma mau memastikan kamu ada di rumah. Sekarang ‘kan malam
minggu. Hmm… Benar nih nggak mau pergi? Nggak keluar sama si
Jambu?”

“Annika, namanya Annika. Kamu mau ke sini? Ya udah, aku tunggu.”
Telepon langsung ditutup. Aku merasa ada yang tidak beres dengan
Troya. Ada apa, nih?

Troya
menyambutku dengan muka berantakan. Matanya merah, mukanya sembab. Ia
mempersilakanku masuk tanpa kata-kata, hanya dengan menggerakkan
tangannya. Setelah beberapa saat berdiam diri, aku membuka
percakapan, “Si… eh… Annika, gimana?”

“Jangan ngomongin dia lagi, dong, Na”

“Lho? Kalian pacaran, ‘kan?”

Troya menghela napas panjang, “Nggak. Kami nggak pernah pacaran.
Baru deket aja. Ternyata dia udah punya pacar. Padahal aku pikir dia
juga suka.”

Dasar
nenek sihir. Benar ternyata dugaanku.

“Memang dia nggak pernah bilang kalau dia udah punya pacar?”

“Nggak… aku juga tahu soal itu dari temennya”

“Udah tanya sama orangnya langsung?”

“Nggak. Buat apa?”

“Tapi…”

Dia
cuma main-main sama aku, Yuna. Mungkin hanya lagi bosan sama
pacarnya. Entahlah. Tapi dia bikin aku berpikir kalau aku punya
kesempatan besar. Tapi, kenyataan nggak semudah itu, ‘kan?” Troya
tersenyum getir.

Aku
diam, tidak tahu harus menanggapi apa. Beberapa saat kemudian aku
menyadari bahwa Troya sedang menangis tanpa suara. Ia membenamkan
wajahnya ke lutut yang ditekuk. Refleks, aku membawanya ke pelukanku.
Aku mengelus punggungnya pelan-pelan, mencoba menenangkannya, persis
seperti saat kami masih kecil dulu. Troya memang selalu
membutuhkanku.

Aku
sakit Na, sakit. Sangat sakit,” Troya terisak pelan.

I am
terrified of all things.

Frightened
of the dark.

I
am.

You
are taller than a mountain.

Deeper
than the sea.

You
are.

 

Hold
me.

Hold
me.

Take
me with you ’cause I’m lonely…
*

Aku membiarkan Troya terus menangis menumpahkan perasaannya hingga
beberapa lama. Mungkin air mata bisa membantunya memulihkan luka.
Kemudian aku melepaskan pelukanku. Troya cepat-cepat menghapus bekas
air matanya. Aku menatap matanya dalam-dalam. Troya menatapku juga.

“Dengar ya, Oya. Jangan hanya gara-gara si Jambu itu…”

“Annika,” potong Troya

Ya,
Annika,” ujarku tidak sabar. “Jangan hanya gara-gara dia kamu
menyiksa diri sendiri. Jangan sakit hanya gara-gara dia, okey?”
Sambil berbicara aku terus menatapnya tajam. Troya mengangguk
ragu-ragu.

“Sekarang, aku perlu kertas dan pulpen,”

“Hah?”

“Ambil saja, nanti kamu juga tahu,” perintahku tidak sabar. “Oh
ya, bawa korek api juga.”

“Sekarang, kamu tulis nama Annika di kertas itu,” perintahku
setelah Troya datang dengan benda-benda yang kuminta.

Troya
menatapku tidak mngerti, tapi dilakukannya juga apa yang kubilang. Ia
menulis nama Annika besar-besar, memenuhi halaman kertas itu. Setelah
selesai ia menatapku lagi, seakan menunggu perintah selanjutnya.

Sekarang,
bakar kertasnya.”

Kedua alis Troya bertemu, menatapku keheranan.

“Bakar kertas yang ada nama si Jambu itu. Anngap kertas itu semua
kenangan yang kamu punya tentang Annika. Ketika kertas itu terbakar
habis, artinya pikiran kamu tentang Annika tidak ada lagi.
Habis.Musnah. Dan kamu tidak akan sakit lagi.”

Troya
masih memandangku dengan tatapan aneh selama sesaat.Tapi kelihatannya
ia mengerti, buktinya ia mulai membakar kertas itu seperti yang
kusuruh. Sementara api yang menyala membakar kertas itu pelan-pelan,
Troya terus menatapnya nyaris tanpa berkedip.

Sekarang kertas bertuliskan nama si Jambu habis sudah. Yang tersisa
hanyalah abu. Tidak kurang, tidak lebih. Troya menatap abu itu dengan
tatapan aneh. Terlihat seakan-akan ia sebenarnya tidak  mau
membuatnya jadi abu begitu.

“Sudah baikan, Oya?”

“Yah… jauh lebih baik,” katanya. Dari ekspresi wajahnya aku
yakin ia benar-benar sudah lebih baik dari sebelumnya.

“Makasih ya, Yuna,” ucapnya sambil tersenyum tulus.

Aku
hanya mengangkat bahu, “Yeah… That’s what friends are
for”

Beberapa
hari sejak peristiwa-bakar-Annika itu Troya terlihat jauh lebih baik.
Yang lebih penting, ia sekarang tidak pernah menghilang lagi dari
sisiku. Kehidupan kembali seperti semula.

“Makan somay di FISIP, yuk Na!” ajak Troya ketika kami bertemu
saat makan siang.

Yakin,
mau makan di sana?” Aku teringat si Jambu. Di sanalah Troya
melihatnya pertama kali. Bagaimana kalau tiba-tiba kalau Troya
bertemu lagi dengannya?

“Kenapa? Di sana ‘kan somaynya enak?”

“Yah… boleh, deh,” kataku sambil berdoa dalam hati agar tidak
bertemu si Jambu.

Ternyata doaku tidak terkabul. Buktinya si Jambu sedang menuju ke
sini sekarang, sambil tersenyum riang.

“Troya! Udah lama nggak ketemu kamu. Apa kabar nih?”

Troya menatap gadis yang baru saja menyapanya itu dengan tampang
bingung.

Maaf,
apa kita pernah ketemu sebelumnya?” tanya Troya tanpa diduga.
Tawaku hampir meledak saat melihat reaksi yang timbul pada wajah si
Jambu.

“Akting bagus, Ya, tapi kamu nggak berhasil. Kamu ke mana aja sih?
Bahkan telepon aku juga nggak pernah.”

“Maaf, ya, tapi saya rasa kamu salah orang,” Troya kelihatan
sungguh-sungguh.

Perkataan
Troya barusan membuat si Jambu naik darah, “Kalau nggak mau ketemu
aku lagi, ya udah. Tapi nggak usah gini caranya. NORAK!” Sehabis
berkata begitu si Jambu cepat-cepat meninggalkan meja yang aku dan
Troya tempati.

Aku
tidak bisa lagi menahan tawa, “Ha ha ha ha… aktingmu barusan
boleh juga. Ha ha ha ha… kamu harus dapet piala citra,”

“Akting apa sih, Yuna?”

“Maksudku, kamu benar-benar kelihatan seakan-akan nggak kenal si
Jambu itu.”

Jambu?
Nama cewek aneh tadi Jambu? Aneh banget. Kamu kenal, Na?”

Troya kelihatan sungguh-sungguh. Atau jangan-jangan ia meneruskan
aktingnya untuk mengerjaiku?

Jangan
pura-pura lupa, Oya. KAMU yang kenal dia, bukan aku.”

“Hah? Masa sih?”

“Oya, berhenti bercanda dong.”

Aku
nggak bercanda, Yuna. Memang aku nggak kenal cewek itu. Gimana
caranya aku kenal dia? Anak FISIP yang aku kenal ‘kan cuma si Tono,
temen sekelasku waktu SMA itu.”

Aku
menatap Troya lekat-lekat, berharap ia segera menghentikan lelucon
ini. Tapi ia benar-benar serius. Tidak mungkin akting. Selain itu,
Troya tidak pernah bisa berakting di depanku.

“Jadi, kamu benar-benar nggak kenal sama yang tadi?” aku mencoba
memastikan.

Troya menggelang ringan, “Dia pasti salah orang”

Tidak masuk akal, kataku dalam hati. Bagaimana mungkin? Tapi kemudian
ingatan tentang kertas dan api melintas di benakku. Aku tersenyum.

Yah…
pasti salah orang, mukamu ‘kan pasaran, Oya,” ujarku sambil masih
tersenyum. Troya mencibir.

Dan kehidupan kembali seperti semula.

 

 

*
Lirik lagu Hold Me, Weezer




2 Responses to “Troya”

  1.   naYYYS on January 13, 2007 2:44 am

    tapi..
    sebenernya seseorang yang pernah singgah di hati, tidak akan bisa dilupakan begitu saja de.
    kyk di film eternal sunshine..

  2.   ade on January 18, 2007 2:43 am

    nad, jangan curhat

Comments RSS

Leave a Reply

Name

Email

Website

Speak your mind