Merampok Bank Sambil Menulis
Tanggal 4 Januari lalu gue ikut pelatihan menulis yang diadakan Forum Lingkar Pena Depok. Tujuan pelatihan ini bukan sekadar melatih orang untuk menulis kreatif, tapi juga sebagai ajang kaderisasi FLP. Yah, gitu deh, pokoknya. Itu yang membedakan dari pelatihan nulis yang lain.
Pesertanya kebanyakan cewek. Yah. Lagi-lagi gue berada di lingkungan yang sebagian besar kaum Hawa. Tapi intinya bukan itu. Gue bertemu orang-orang baru. Kebanyakan sih umur 20-an. Mahasiswa cukup mendominasi. Ada juga ibu rumah tangga. Bagi gue, ini lingkungan baru yg cukup menarik. Nanti pasti gue akan cukup banyak berinteraksi sama mereka.
Setelah segmen talkshow, acara dilanjutkan dengan games. Intinya, games itu memicu kemampuan untuk menulis. Permainannya diadakan dalam kelompok. Tiap kelompok wajib merancang rencana perampokan suatu bank. Lalu, kita jg disuruh bikin yel-yel kelompok (PELATIHAN APA OSPEK ?!?!?!?!?) dan mempresentasikan rencana perampokan itu.
Ngomongin kelompok, gue agak males. Bukan masalah bekerja sama dgn orang lain, tapi bekerja sama dengan orang yang baru aja gue kenal. Di kelompok gue ada lima orang. Satu mahasiswa, cowok, anak UI, kita sebut HD. Yang satu lagi, cewek, kira-kira seumuran gue, kita panggil A. Cewek yang lain mahasiswa jg, B. Satu lagi, ibu-ibu. Kita panggil aja IBU (?). Nah, permainan pun dimulai. Begitu jg masalah.
Dari awal sebenernya gue bertekad untuk tidak menjadi terlalu vokal dan menyampaikan ide-ide gue. Tapi sayang, itu emang udah sifat gue. Gue dan si A juga si IBU adalah orang yg hot banget merencanakan perampokan itu. Tapi, gw akhirnya capek sendiri. Si IBU dan A keliatan ga fokus. Misal, kita udah sepakat akan merampok ATM aja. EH, di tengah-tengah malah balik lg ke ide untuk merampok bank langsung dan menjebol brankas. Muter-muter mulu.
Selama kami bertiga heboh sendiri, si HD dan B malah diem aja. Pas ditanya tentang masukan utk rencana itu si B Cuma senyam-semyum. Si HD begitu juga, tapi sambil nggambar2 apalah ga jelas di kertasnya.
Intinya, sampai waktu udh tinggal 10 menit kita masih belum pasti dengan rencana dan tugas masing-masing dalam perampokan itu (kok gue ngomong seakan-akan ini beneran, yah?) Nah, akhirnya kami bertiga (gue, si A, dan si IBU) nanya pendapat lg sama si B dan si HD. Lo tau apa? SI HD TIBA-TIBA UDH PUNYA RENCANA YANG JADI LOH!!! Dan rencananya itu beda 100% dari yang kami bicarakan sepanjang diskusi. Intinya, dia gak ikut diskusi tapi malah bikin rencana sendiri. DAMN! NGERTI GAK SIH DIA CARA KERJA KELOMPOK? Malu gue sebagai anak UI. Yang dari tadi dia gambar di kertas ternyata adalah peta rencana gitu.
Akhirnya, karena udh kehabisan tenaga, semua orang sepakat dengan RENCANA SATU ORANG DOANG itu! Mau gimana lagi? Diskusi yg gue lakuin dengan anggota lain jg gak fokus. Setelah gue tau itu, gue marah. Tapi, ya gak mungkin juga marah-marah langsung.
Gue marah dgn cara protes. Alasan gue, idenya terlalu mencolok untuk ukuran merampok. Bayangin aja, di dlm rencana itukami akan menaruh bom di mal sebelah bank dan menset suatu aksi demonstrasi di gedung sebelahnya lagi. Trus, kabur dengan helikopter. LO MAU NGERAMPOK APA MAU MASUK TV?
Gue bilang, “Helikopter dari mana?”
Dia bilang, “kita beli aja.” (sambil senyam-senyum yang membuat gue inget seseorang yang menyebalkan. Untung dia gak gue tonjok) LO PIKIR BELI HELI KAYA BELI PISANG GORENG?
“Tapi ini kan kita mau ngerampok bank, masa beli helikopter dulu? Yang namanya beli heli kan nama kita pasti tercatat di mana … gitu” yah, gue gak ngerti sih soal beli heli ini. Tapi tetep aja, helikopter terlalu mencolok untuk perampokan.
Alasan dia, “ntar heli itu kita samarin sbg heli milik stasiun TV.”
Sebenernya gue mau mendebat dengan “ITU JUGA BISA CEPET KETAUAN DONG, EMANGNYA TV GAK BAKAL TAU, APA ADAREPORTER YANG PERGI DENGAN HELI ATAU GAK?” tapi waktu tinggal beberapa menit lagi. Gada waktu.
Setelah pembagian tugas selesai, masih ada yg ketinggalan. Yaitu, bikin yel-yel dan nama kelompok rampok. Akhirnya, gue memutuskan secara sepihak: GEROMBOLAN SIBERAT. Sungguh kreatif, bukan?
Mau tau yang lebih ancur lagi? Kelompok gue maju pertama. Dan kita kacrut banget. Gue gak pernah merasa segagal itu sebelumnya. Gue sudah menghabiskan energi selama lebih dari 10 menit utk membangun rencana yg akhirnya gak terpakai sama sekali. Dan itu karena ada satu orang yg gak bisa bekerja sebagai satu kelompok. BENER DEH, kalo ketemu si HD itu lagi (GUE GAK BAKAL LUPA MUKANYA) gue akan cari cara utk ngajarin dia bekerja dalam satu kelompok. Mungkin dosennya lupa ngajarin itu. Atau mungkin dia yang lupa.
Books | Comment (0)We LOVE ECha, The Drummer
teman2 echerz alias penggila echa the drummer, gimana kalo tanggal 4 januari nanti kita bareng ke IC?nah, yang mau ikut bales aja bulbor ini yah… biar bisa janjian sebelumnya. plus, kita kan mo bikin spanduk.okeh?ditunggu…
Tarix JABRIX, review
Film Review
Tarix Jabrix
Credits
Director : Iqbal Rais
Casts : Tria Changcut (Caca a.k.a. Cacing)
Dipa Changcut (Mulyana Derajat a.k.a. Mulder)
Erik Changcut (Dadang)
Qibil Changcut dan Alda Changcut (Coki dan Ciko)
Carissa Puteri
Francine Rosenda (Mayang)
Everyone should’ve expected much from the film produced by Hanung Baramantyo. Considering that he’s directed several hits, this one should’ve been big too. Sorry to say, those expectations are useless. The only reason left to see this film is that a favorite bands’ personnels play the central characters.
The debut film of The Changcuters tells about five high school students: Cacing, Mulder, Ciko, Coki, and Dadang. They found a motorbike gang named Tarix Jabrix. From the very start, they commited not to be like the other gangs, that tend to be criminals.
As the story grows, “Tarix Jabrix” happened to get into trouble with another gang “ Smokers “. The conflict with the gang, which includes romance (as usual), is the main composition of the story. Unfortunately, how the story came into these conflicts is too easy, and so is the solution. Everything seems to be too coincidential, to avoid the word irrational.
Duration is spent too much on characters introduction at the beginning.This way, there is not enough time to focus on the main topic: clashes happened between “Tarix Jabrix” and “Smokers” . Besides, the role played by Francine Rosenda turned out to be nothing more than accessories.
However, “Tarix Jabrix” succeeded enough to be a bit different from other teenagers movies by picking recent issue in Bandung: motorbike gangs. It is also a right media for Changcuters to show people that they are not only good performers on stage, but also quite talented actors.
Film | Comment (0)
Menjadi Senior yang Baik
(menyambut tahun akademik baru)
Hari
saat Henny sidang skripsi gue dateng. Tapi, sebelumnya gue ke Kansas
dulu karena kangen juga. Akhir-akhir ini Kansas cuma gue lewatin
doang. Gak dinikmati. Gue di sana sama Mimi Ratu Bulbor. Abang Po
(bukan nama sebenarnya) kemudian bergabung. Lalu mengobrollah kami
bertiga. Entah bagaimana, pembicaraan di Kansas tadi pagi dengan
Abang Po dan si Mimi bermuara pada tema ‘mencintai mata kuliah
jurusan sendiri’ dan akhirnya menyerempet masalah pengaruh senior
terhadap juniornya.
Si
Abang Po kita itu cerita bahwa mulanya dia gak suka-suka amat ama
kuliah jurusan sendiri. Kalaupun akhirnya dia suka, itu karena
pengaruh teman-teman sepermainan dari jurusan lain. Mendengar itu,
gue cuma ngangguk-ngangguk sambil mikir (ya, gue bisa mikir): Apa gue
pernah bener-bener suka ama kuliah-kuliah gue? Gak tau juga. Selain
bahasa-bahasa sumber gue gak pernah bener-bener semangat. Tapi, gak
berarti benci juga. Perasaan gue, ya… datar aja, gitu. Apa
jangan-jangan gue kurang berperasaan?
Soal
gue punya perasaan atau nggak, nggak penting. Tapi, mengenai penyebab
ketidaksukaan terhadap mata kuliah sendiri itu gue punya satu teori:
karena asupan racun beberapa senior. Mereka memberi kesan bahwa
belajar di prodi jerman berarti belajar menggorok leher lo sendiri.
“Iya juga sih, waktu gue baru masuk gue udah dikasih tau biar
siap-siap DO,” kata Po menanggapi gue. See? Dan itu bukan
satu-satunya kasus. Salah satu dari angkatan gue pernah nanya sama
seorang senior, “Kira-kira pas semester tiga IP bisa naik gak ya?”
Dan dengan tegasnya dia menjawab “Gak bisa. Gak mungkin”. Tanpa
memikirkan bahwa sebagai senior ucapannya menjadi acuan. Tanpa
memikirkan bahwa dunia lebih rumit daripada pencernaan sapi, sehingga
‘tidak mungkin’ bukanlah kata-kata yang gampang diucapkan.
Mungkin
menurut beberapa orang menjadi senior hanya masalah lebih tua atau
lebih dulu belajar. Sayangnya, nggak sesederhana itu. Bagaimana pun,
junior melihat seniornya sebagai orang yang lebih berpengalaman dan
lebih tahu. Been there, done that. Dari senior mereka
mengharapkan banyak pelajaran agar bisa melakukan apa pun dengan
baik. Karena itu, yang harus seorang senior bilang kepada juniornya
adalah, “Dari pengalaman gue, yang harus lo lakukan adalah…”
Selain
itu, menurut gue lebih baik jangan memberitahu hal-hal negatif soal
dosen-dosen, terutama sebelum junior bertemu dosen-dosen itu. Biar
mereka nilai sendiri. Kalau perlu, ketika mereka mengeluhkan
dosen-dosen, tenangkan mereka. Buat mereka yakin bahwa dosen
Sapaitulahnamanya tidak seseram kelihatannya. Ini penting karena
penilaian terhadap dosen berpengaruh pada atensi terhadap kuliahnya.
Gak suka sama dosen=gak suka mata kuliahnya=males masuk
kuliah=prestasi buruk.
Selanjutnya,
ubah cara lo menceritakan kegagalan lo dalam kuliah. Jangan buat
kesan bahwa kegagalan lo adalah hal yang wajar dan kemungkinan besar
junior lo akan gagal juga. Masalahnya, junior lo itu belum tentu
hanya punya kemampuan yang sama atau lebih rendah daripada lo. Jadi,
nggak usah bilang kalau lo nggak lulus mata kuliah Apalahgitu karena
“Tu dosen emang gitu.Ngasih nilainya suka nggak jelas. Mistis”.Yang
harus lo bilang adalah, “Kayaknya gue emang kurang belajar, deh.
Emang kalo ikut mata kuliah itu harus sering-sering baca buku lain.”
Sayangnya,
senior-senior di prodi jerman nggak semuanya sadar bahwa pengaruh
mereka cukup banyak ke adik-adik mereka. Jadi, kadang-kadang mereka
perlu diingatkan. Misalnya, waktu ada pertemuan angkatan 2007 yang
baru masuk dan ISJ. Gue waktu itu berusaha mencegah Ketua ISJ
tercinta menyinggung tema akademik waktu berbicara di depan puluhan
anak baru. Masalahnya, gue punya firasat bahwa dia bakal
menakut-nakuti mereka. Tapi, gue gagal. Gue gagal mencegah dia
mengatakan “Di jurusan kita IP 3 itu sudah sangat bagus”.
Seharusnya gue gak pernah kasih dia kesempatan untuk bicara di depan
angkatan baru dari pertama. “IP 3 sudah sangat bagus” adalah cara
lain untuk mengatakan “IP 3 itu nyaris nggak mungkin”. Nyatanya?
Nggak juga. Kata siapa? Gue tahu bahwa banyak dari angkatan gue yang
IP-nya 3. Semester tujuh kemarin kami malah rame-rame menembus angka
3,5.
Cukup
soal tips menjadi senior yang baik. Gue mau meyakinkan lo bahwa efek
senior MEMANG besar terhadap juniornya. Gara-gara asupan racun senior
itu, anak-anak jerman sebagian besar punya sifat sbb:
-males ikut organisasi karena berpikir itu membuang waktu dan (entah
sumber dari mana) dosen-dosen kurang suka sama anak-anak yang aktif
organisasi. Padahal, aktif di organisasi adalah salah satu syarat
menjadi calon kandidat Mahasiswa Berprestasi.
-Males ikut kelas-kelas bahasa sumber karena (entah atas dasar apa)
ada pikiran bahwa kelas bahasa sumber membuat lo makin bingung dengan
bahasa jerman.
-Merasa jadi orang termalang di dunia karena jadi mahasiswa jerman.
Padahal, bahasa jerman masih ditulis dalam tulisan latin (bandingkan
sama bahasa arab, rusia, korea, cina, dan jepang!). Selain itu, masih
punya kekerabatan dengan bahasa inggris (coba kalo lo belajar bahasa
rusia!). Belum lagi, jadwal kuliah anak jerman masih lumayan longgar
daripada anak arab yang di tahun pertama aja kuliah dari jam 7.30
sampe 17.30.
-Punya nilai bahasa jerman yang jauh di bawah ekspektasi karena dari
awal sudah menganggap bahasa tsb susah dan (dalam beberapa kasus)
malah jadi males belajar karena kayaknya percuma.
Sifat-sifat
di atas jelas-jelas buruk semua dan sedikit-banyak akan berpengaruh
pada masa depan anak jerman sendiri. Yang mau gue bilang adalah ambil
pelajaran dari tulisan ini. Jadilah senior yang baik. Oke?
Science | Comment (1)
ObrAL-oBROL: Asal Usul Pocong
Salah
satu penanda bahwa kita sudah lama tidak bertemu dengan seseorang
adalah bahan obrolan. Makin lama nggak ketemu, makin banyak aja bahan
obrolan. Apalagi kalau teman tersebut adalah tipe yang ‘klik,’
meminjam istilah Ussy. Itulah yang terjadi dengan gue, ayu, dan indra
(yg udah lama gak ngobrol ama gue adalah indra.)
Momen
ngobrol setelah lama gak ketemu itu adalah 17 juni kemarin, 4 hari
setelah ulang tahun si mantan ketua SM. Gue dan ayu memang mengatur
pertemuan tersebut (ca ilah, pertemuan) untuk ngasih kado (dua botol
Redoxon Fortimun) ke dia. Obrolan berlangsung cukup lama, dari jam
dua siang sampe jam empat sore. Lokasinya pun sempet pindah dari
payung ijo depan gedung I ke KP. Kami ngobrol banyak di sana. Dari
mulai hal yang biasa sampai yang paling ngelantur.
Salah
satu bahan obrolan adalah pocong. Bermula dari obrolan soal film,
kami mulai membahas pocong seakan-akan itu topik penting.
IG
(Indra Ganteng, bukan Ivan Gunawan)
Apa
lagi ya, yang belom diangkat jadi film dari pocong? Pocongnya sendiri
udah, talinya udah, kainnya udah, sampe sumpahnya pun udah ada
filmnya.
G
(gue) dan A (ayu)
Iya
juga, ya… apa ya?
G
Eh,
tapi ya, pocong itu emang bentuk hantu paling aneh, deh. Coba kalo
ada yang pake kostum pocong di situ (menunjuk halaman luar
di samping KP) belom tentu ada yang takut. Jangan-jangan malah ada
yang bilang, “Eh, bukannya PK (Petang Kreatif) masih lama, ya?”
IG&A
(ketawa)
Iya kali ya…
G
Kalo
gitu gue tahu, bikin film tentang asal-usul pocong aja! Pocong
pertama namanya siapa, penampakan pocong pertama ada di mana…
A
Trus
kenapa juga kostumnya mesti kayak permen gitu…
IG
Yah,
literaturnya susah amat dong
G
Yiah,
bisa wawancara salah satunya. Tanya, “Kenapa memilih jadi hantu
pocong dan bukannya yang lain, suster ngesot, misalnya?”
IG
Yiah,
mungkin emang dia waktu itu lagi kalah suit, jadi terpaksa deh pake
kostum gitu…
G
…
atau itu emang fashion statement dia (buset, bahkan gue gak paham
fashion statement itu apaan)
IG
Tapi,
setelah dipikir-pikir, pocong itu ada hubungannya ama budaya juga ya…
Bagus tuh buat ditulis di… mana… Pena apa?
A
Pendar
Pena
IG
Oh,
iya, Pendar Pena
A
Tapi
literaturnya susah
Hening
G
Ah,
udahlah, makin ngaco aja nih…
IG &
A
(ketawa)
Iya nih
Dengan
demikian berakhirlah topik pembicaraan tentang hantu pocong. Tema
beralih karena gue dan ayu menyerahkan kado.
“Apa
nih?” kata Indra.
“Liat
aja,” gue dan ayu menyarankan
Pas si
Indra liat isi bungkusan dia ketawa geli. “Kok tahu sih kalo gue
sering sakit?”
“Ya
tahulah. Jamannya gue masih di SM, sering ketemu lo lagi pilek.
‘Kenapa Ndra?’ ‘Kena ujan’” kata gue.
Trus si
Indra ketawa lagi.
“Eh,
tapi lo berdua nggak mesti liat gue minum ini’kan?”
“Ya
nggak lah…” kata gue dan ayu.
Dasar
si Indra. Ganteng-ganteng kalah ama ujan. Semoga Fortimun ada
gunanya.
Nah,
semuanya, jaga kesehatan ya!
NB: Gue
berpikir untuk mendirikan Indra Fans Club. Ada pendapat? Ha ha ha ha…
blog jerman 04
bagi para penggemar 2004, sekarang jerman 04 punya blog. alamatnya http://germanistik-memori.blogspot.com/ silakan mampir.
Uncategorized | Comment (0)The Morning Canteen Drama
So, it’s been like
ages since I saw him for the last time. It feels weird now. Before I thought
there’s no way I can find him interesting. No way. But that’s changed.
You’re from outer space; you’re every minute of my every day. No, that’s
just a line from Michael Buble’s “Everything,” not my feeling description or something. I mean, we don’t
even know each other and I’m not sure there’s a chance for that.
Memories about him are
only canteen in the morning, my not-yet-finished homework, hot tea or coffee,
and sounds when he and couple of friends were making their way to their own
corner in the canteen. I believe that I know sounds of their steps well that I
always stopped doing my job as I heard them approaching. Probably they’d just
attended a 7.30 am class and decided to have a glass of drink while waiting for
the next class.
It might sound funny,
but I have to admit that I always looked at him and told myself: nothing is
special about this guy. He looks… totally normal. The Morning Canteen Drama
continued for… I don’t know… a whole semester? And now abruptly he’s been one
of chit-chat topics. Hhmm… you know
what? I think I start to miss my morning drama.
And in this crazy
life
And through this
crazy times
It’s you, it’s you,
you make me sing
You’re every line,
you’re every word
You’re everything
Uncategorized | Comment (0)
Untuk Raditya Dika: Mana Pesan Moralnya?
Gue pernah bilang ama Ara, “Ra, masa’ adek gue ngefans banget ama Raditya Dika (selanjutnya akan disebut RD). Tiap minggu dia selalu ngebaca blognya gitu…” Dari kalimat itu gue ingin mengesankan bahwa gue prihatin akan keadaan adek gue. Tapi, sebenernya gue juga ngefans banget ama penulis itu, cuma entah kenapa gue agak males untuk mengakui. Nggak ada alasan khusus, sih. Gitu deh.
Bagaimanapun, perasaan tidak bisa dibohongi. Beberapa hari sebelum “UI Bookfest” berlangsung gue baca posternya yang menyatakan bahwa RD akan datang (dalam wujud asli) sebagai salah satu pembicara dalam talk show “From Blogger to Author.” Gue melihat poster itu lebih dekat, hampir tidak percaya. Ternyata gue tidak berkhayal. RD akan datang!! Gue berdoa agar seluruh panitia diberkati dan dilindungi selalu. Semoga kuliah mereka lancar, selalu dapet nilai A, dan tidak terkena gangguan pencernaan. Amin.
Singkat cerita, hari Kamis yang dinanti datang juga. Selepas kuliah gue bergegas ke audit gedung IX… dan gue tidak datang dengan sia-sia. Si pelawak yang gue tunggu benar-benar menghibur. Datang dengan T-Shirt biru tua dan celana jeans abu2 gelap tanpa ikat pinggang (??). Hampir sepanjang acara para hadirin tertawa mendengar cerita-ceritanya. Seakan-akan gue mendengar Kambing Jantan versi sandiwara radio.
Namun, all good things always come to an end. Suasana dirusak oleh penanya dari FISIP yang berkata begini, “Bukunya ‘kan humoris banget, yah. Tapi, pernah nggak kalian (RD dan Miund, blogger-to-author yang juga jadi pembicara) memikirkan pesan moralnya?” Pertanyaan itu dissambut oleh teriakan “Huuu….” Si Mas Penanya cengar-cengir. Walau begitu, pertanyaannya tetap dijawab dengan: mungkin memang tidak ada pesan moral khusus karena tujuan awal blog memang hanya untuk curhat, bukan dipublikasikan ke orang lain. Dasar pertanyaan aneh. Blog itu kan web log—buku harian maya. Orang mana di muka bumi ini yang menulis diari untuk menyampaikan pesan moral?
Lagipula, kalau dia memang bisa membaca, tidak semua tulisan jenis ‘buku blog’ itu kosong. Tanpa pesan. Contohnya aja cerita tentang Mbip yang gue bahas di tulisan sebelumnya. Dari situ kita bisa ambil kesimpulan bahwa kalo ngejek orang jangan keterlaluan. Bisa fatal. Cerita tentang RD yang pake kostum badut juga bisa memberi kita sesuatu. Bahwa pekerjaan badut yang kelihatannya gitu-gitu doang sama sekali nggak gampang. Disalamin ama anak kecil lah, kostum yang panas… See? Tergantung dari pembaca mau berpikir lebih dalam apa nggak, ‘kan? Sedih juga gue kalo inget Mas Penanya itu anak UI. Bikin malu aja. Pasti dulu dia SPMBnya pake joki. Yakin gue. Ya sudah, daripada ngomongin anak FISIP itu lebih baik saya berhenti menulis dan mengerjakan PR Bahasa Jepang Sumber.
Mata Ashita! (Sampe besok!)
NB: Kenapa ‘sampe besok’? karena yang gue bisa baru itu. Huhuhu.
Uncategorized | Comment (0)Cinta Laura, Bahasa, dan Arogansi Kita
Waktu itu (yah, waktu itu deh
pokoknya) gue nonton infotainment yang saat itu membahas para pemain sinetron
yang logatnya kurang Indonesia, dalam hal ini Miller dan Cinta Laura, tapi (sorry
penggemar Miller) di tulisan ini gue hanya akan membahas yang pertama karena
kelihatannya lebih fenomenal.
Gue dan temen2 juga banyak orang
lain mengejek-ejek Cinta Laura karena bahasa Indonesia yang terpatah-patah dan
bercampur dengan bahasa Inggris. Gue gak perlu jelaskan kenapa. Kesalahan dan
‘keanehan’ orang lain adalah salah satu hiburan terbaik bagi sebagian orang.
Tapi,di infotainment yang gue sebut di atas ada satu komen tentang Mbak Cinta
yang menurut gue agak ekstrim dan mencerminkan pemikiran yang tidak terbuka.
Komen tersebut berasal dari seorang wanita muda. Dia bilang, “Cinta Laura? Agak
kurang suka, ya… karena bahasa indonesianya kebule-bulean gitu…” Weks? Lo gak
suka orang hanya karena logatnya? Ck, ck, ck… (Gue lebih geuleuh sama orang
Indonesia
aseli yang nyelip2in kata2 inggris dgn anehnya saat ngomong)
Yah… maksud gue, dia berlogat
seperti itu ‘
kan
bukannya gada penjelasan. Dia berbahasa
Indonesia
hanya di lokasi syuting
(yang belum lama juga dijalani). Selain itu, menurut pengamatan gue, memang
lidah yang biasa berbahasa ‘bule’ sulit untuk bisa fasih bahasa
Indonesia
.
Logis.
Cinta Laura bukanlah korban
pertama. Salah satunya bisa dibaca di buku Raditya Dika yang baru, Radikus
Makankakus: Bukan Binatang Biasa. Di situ diceritakan tentang Mbip, anak
pindahan dari
Indonesia
timur. Sejak pindah dia diejek-ejek ama temen-temennya di
Jakarta
. Salah satu sebabnya adalah logatnya
yang tidak
Jakarta
dan kekurangterampilan dia berbahasa seperti teman-teman barunya. Ejekan itu
akhirnya berbuntut serius (untuk lengkapnya lo baca bukunya aja).
Mungkin dengan mengejek seperti itu
kita menunjukkan bahwa kita berada dalam posisi yang lebih baik. Tapi, apa
benar kita lebih baik dari Cinta Laura? Apa yang sudah kita lakukan di umur 14?
Apa benar teman-teman Jakarta Mbip lebih baik dari dia hanya karena tahu kapan
harus menggunkan kata sapaan ‘gue’? Di atas itu semua, apa benar bahasa
Indonesia kita bagus? Setelah menonton Snap Shot Metro TV lalu tentang
kesalahan pemakaian bahasa indonesia, gue jadi makin yakin bahwa (selain gue) banyak
orang Indonesia yang nggak bisa bahasa Indonesia dengan baik dan benar,
termasuk pejabat!
Nah, jadi, mulai sekarang kalo lo
lagi naik angkot dan di sebelah lo ada dua anak sekolah yang berbincang-bincang
seperti ini:
Anak Sekolah 1 : Nonton, yuk. Katanya Dendam Nyi
Blorong III udah tayang tuh
Anak Sekolah 2 : Emang lo nggak belajar buat ujian
besok apah?
Anak Sekolah 1 : Ujian sih, tapi bahasa Indonesia doang
kok
Lo bilang aja ama dia : Liat tuh Cinta Laura, nggak bisa bahasa
Indonesia
!
Mari, belajar berbahasa
Indonesia
yang baik dan benar.
Cukup sekian dan terima kasih.
Science | Comment (0)